Guru agama disekolah saya adalah seorang Master of Theology
/ M.Th dari salah satu sekolah Theology berbasic Lutheran .
ia mengajarkan bahwa sewaktu Yesus inkarnasi Ia adalah manusia 100% Allah 0% (menolak dwinatur)
tentang mujizat dan pengetahuan itu semua dibantu oleh RK, sehingga Yesus bisa melakukan banyak mujizat atas bantuan kuasa RK, bukan atas kuasa diriNya sendiri .
Ia menggunakan Filp 2:6-8
pertanyaan saya :
1. apakah ini adalah kepercayaan iman Lutheran ? kalau tidak
2. apakah ini adalah pengertian dari salah satu ajaran bidat ? kalau iya bidat yang mana ?
3. Jika itu bidat, bagaimana cara saya meyakinkan teman-teman saya, dan terakhir guru saya sendiri bahwa itu adalah ajaran yang salah ?
4. Tentang Mujizat & pengetahuan dibantu RK
bagaimana cara mematahkanya kak ?
terima kasih sebelumnya, Tuhan berkati
ia mengajarkan bahwa sewaktu Yesus inkarnasi Ia adalah manusia 100% Allah 0% (menolak dwinatur)
tentang mujizat dan pengetahuan itu semua dibantu oleh RK, sehingga Yesus bisa melakukan banyak mujizat atas bantuan kuasa RK, bukan atas kuasa diriNya sendiri .
Ia menggunakan Filp 2:6-8
pertanyaan saya :
1. apakah ini adalah kepercayaan iman Lutheran ? kalau tidak
2. apakah ini adalah pengertian dari salah satu ajaran bidat ? kalau iya bidat yang mana ?
3. Jika itu bidat, bagaimana cara saya meyakinkan teman-teman saya, dan terakhir guru saya sendiri bahwa itu adalah ajaran yang salah ?
4. Tentang Mujizat & pengetahuan dibantu RK
bagaimana cara mematahkanya kak ?
terima kasih sebelumnya, Tuhan berkati
by Men S, SP
Sebaiknya baca buku Doktrin Kristologi, Louis Berkhof,
Penerbit Momentum, terlebih dahulu mengenai hal ini.
Dibuku tsb dibahas mengenai doktrin kenosis dan dibahas juga mengapa penting Yesus sbg pengantara harus Allah 100% dan manusia 100%. Dan memang tidak ada seorang pun yg dapat memahami secara sempurna mengenai dwinatur Yesus Kristus, karena bersifat unik.
Saya jelaskan secara singkat saja mengenai pentingnya Yesus sbg Allah 100% dan manusia 100%.
Permasalahannya jika saat inkarnasi Yesus adalah Allah 0% dan manusia 100%, atau dgn kata lain Yesus tidak ilahi maka pekerjaan penebusan-Nya tidak akan cukup untuk menebus dosa2 dunia.
Itu sebabnya mengapa Yesus sebagai pengantara harus Allah 100% dan manusia 100%.
Kenapa Yesus harus 100% Allah dan 100% manusia??
Jawaban:
1. karena Yesus harus menjadi “Pengantara” yang Sempurna.
Maksud dari “Pengantara” yang sempurna adalah Yesus menjadi perwakilan dari kedua belah pihak, yaitu perwakilan dari pihak manusia dan perwakilan dari pihak Allah. Artinya pada saat Yesus memperdamaikan antara Allah dgn manusia dgn “mempersembahkan DiriNya sendiri”(sebagai Anak Domba Allah yg tidak bercacat / bernoda) maka Yesus mewakili manusia dgn persembahkan DiriNya yg tidak bercacat utk menebus dosa umat pilihanNya.
Demikian juga Yesus mewakili Allah, yg menerima persembahan tsb, dimana Allah melalui Kristus tidak lagi memperhitungkan dosa2 orang percaya sehingga hubungan Allah dgn manusia di pulihkan.
2. semua manusia telah jatuh di dalam dosa. Atau dengan kata lain tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang dapat menjadi perwakilan dari manusia( berhubungan dengan no 1.).
oleh karena itu, Firman yang adalah Allah, harus berinkarnasi menjadi manusia untuk mewakili manusia, sebagai “Anak Domba Allah” yang tidak bercacat dan bernoda.
3. manusia adalah makhluk ciptaan yang terbatas, sehingga seorang manusia biasa tidak mungkin menanggung dosa banyak orang.
Oleh karena itu, hanya Allah yang tidak terbatas(Allah 100%) yang mampu menanggung dosa banyak orang. Sehingga Firman yaitu Kristus, harus berinkarnasi menjadi manusia. Mengapa harus menjadi manusia 100%?? Karena yang diwakilinya adalah manusia, maka Ia harus menjadi manusia 100%. Hal ini berhubungan dgn no 1 dan 2.
jadi jika kita mengimani bahwa saat inkarnasi Yesus adalah Allah 0% dan manusia 100%, maka timbul permasalahan yaitu Yesus bukan pengantara yg sempurna. Krn sbg Allah 0% dan manusia 100%, maka Ia hanya bisa jadi perwakilan dari manusia, dan tidak bisa menjadi perwakilan dari Allah.
sedangkan sbg pengantara yg sempurna, Ia harus mewakili dari kedua belah pihak.
Perlunya Keilahian-Nya. Dalam rencana keselamatan Allah sangatlah penting bahwa Pengantara itu harus juga Allah yang sejati. Hal ini penting dengan tujuan,
1. Ia dapat membawa korban yang nilainnya tanpa batas dan memberikan ketaatan yang sempurna kepada hukum Allah
2. Ia dapat menanggung murka Allah dan membawa penebusan, shg Ia dapat membebaskan orang lain dari kutukan hukum
3. Ia dapat menerapkan buah-buah karya-Nya yang telah diselesaikan-Nya bagi mereka yang menerima-Nya dengan iman.
Manusia dgn hidupnya yg telah rusak, tidak dapat membayar upah dosa atau melakukan ketaatan yg sempurna kpd Allah. manusia hanya dapat menanggung murka Allah, dan kalau Anugerah Allah yg menebusnya tidak ada,maka yg dapat dilakukan manusia hanyalah menanggung kutukan murka itu selamanya. Ia tidak dapat menanggungnya sambil membuka jalan untuk membebaskan diri.
Note: dan jangan lupa hanya Allah yang merupakan sumber hidup, shg hanya Allah yg dapat memberikan hidup yang kekal. Shg org2 yg ditebusnya beroleh hidup yg kekal.
Jika guru anda mengimani bahwa apa yg dilakukan Yesus adalah semata2 pekerjaan Roh Kudus dan bukan atas kuasa diriNya sendiri, hal ini justru membuktikan kebidatannya. Krn pada saat ia mengajarkan hal tsb justru sedang mengabaikan ajaran Allah TriTunggal.
Doktrin Allah TriTunggal mengajarkan bahwa Allah esa sekaligus 3 pribadi. Yaitu esa secara essensi namun memiliki 3 pribadi. Dalam hal keesaan Allah maka kita dapat mengatakan bahwa karya Yesus adalah karya Allah shg karya keselamatan/ penebusan adalah karya Allah. jika guru anda bilang benar hal tsb, karena Roh Kudus juga Allah dan Ia yg melakukan karya tsb, maka dalam hal ini ia berbicara tentang karya dari masing2 pribadi Allah dlm hal keselamatan, maka dengan demikian ia sudah menyangkal karya masing2 pribadi Allah dalam keselamatan karena dgn mengatakan bahwa itu adalah semata2 karya Roh Kudus dan bukan karya dari pribadi kedua yaitu Putra maka ia bukan lagi mengimani Allah TriTunggal melainkan dwitunggal dalam karya keselamatan karena pribadi kedua tidak melakukan apa2 dlm karya keselamatan.
Perhatikan kalimat Yesus pada saat Ia mengampuni dosa. kita harus memahami bahwa hanya Allah yg dapat mengampuni dosa. Yesus mengatakan
Mat 9:6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa"
Dari ayat diatas maka kita dapat mengetahui bahwa kuasa mengampuni adalah kuasa Allah, dan Yesus mengatakan bahwa “Anak Manusia”, kata tsb merujuk kpd Diri Yesus Kristus bahwa Ia berkuasa utk mengampuni dosa. Yesus Yesus tidak mengatakan dgn kuasa Roh Kudus, Aku mengampuni engkau. Bahkan jika kita baca kalimat awalnya Yesus menyatakan bahwa “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini…” , kalimat ini menunjukkan bahwa walaupun pribadi kedua dari Allah TriTunggal dalam Inkarnasi , Ia tetap berkuasa utk mengampuni.
Kemudian yg kedua, jika Yesus waktu Inkarnasi bukan Allah dan hanya manusia saja maka Ia tidak bisa menerima orang yg menyembah Dia spt di (Mat 14:33). Jika guru anda mengatakan Ia bisa menerima penyembahan karena Yesus dipenuhi Roh Kudus, maka saya katakan nabi Yohanes juga dipenuhi oleh Roh Kudus tapi Ia tidak bisa menerima penyembahan, demikian juga nabi2 lainnya.
Yoh 5:21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.
Ayat diatas menyatakan kesatuan sekaligus masing2 karya dari pribadi Allah TriTunggal dalm hal ini pribadi pertama dan kedua, kesatuannya adalah bahwa apa yg dikerjakan oleh Bapa maka itu pula yg dikerjakan oleh Anak, artinya karya Anak sinkron dgn Bapa-Nya. Kedua, ayat tsb juga menunjukkan bahwa masing2 pribadi berkarya, jadi jika guru anda mengatakan bahwa Roh Kudus lah yg berkarya maka ini sama juga mengatakan bahwa pribadi kedua tidak berkarya. Dalam hal ini saya bukan mau mengatakan bahwa Roh kudus tidak berkarya dalam membangkitkan or2 mati, justru jika kita melihat kesatuan dari Allah TriTunggal maka kita dapat memahami bahwa kebangkitan org2 mati ,ketiga pribadi berkarya sebagai satu kesatuan dalam hal ini.
Semoga penjelasan saya yg singkat ini dapat dipahami.
Dibuku tsb dibahas mengenai doktrin kenosis dan dibahas juga mengapa penting Yesus sbg pengantara harus Allah 100% dan manusia 100%. Dan memang tidak ada seorang pun yg dapat memahami secara sempurna mengenai dwinatur Yesus Kristus, karena bersifat unik.
Saya jelaskan secara singkat saja mengenai pentingnya Yesus sbg Allah 100% dan manusia 100%.
Permasalahannya jika saat inkarnasi Yesus adalah Allah 0% dan manusia 100%, atau dgn kata lain Yesus tidak ilahi maka pekerjaan penebusan-Nya tidak akan cukup untuk menebus dosa2 dunia.
Itu sebabnya mengapa Yesus sebagai pengantara harus Allah 100% dan manusia 100%.
Kenapa Yesus harus 100% Allah dan 100% manusia??
Jawaban:
1. karena Yesus harus menjadi “Pengantara” yang Sempurna.
Maksud dari “Pengantara” yang sempurna adalah Yesus menjadi perwakilan dari kedua belah pihak, yaitu perwakilan dari pihak manusia dan perwakilan dari pihak Allah. Artinya pada saat Yesus memperdamaikan antara Allah dgn manusia dgn “mempersembahkan DiriNya sendiri”(sebagai Anak Domba Allah yg tidak bercacat / bernoda) maka Yesus mewakili manusia dgn persembahkan DiriNya yg tidak bercacat utk menebus dosa umat pilihanNya.
Demikian juga Yesus mewakili Allah, yg menerima persembahan tsb, dimana Allah melalui Kristus tidak lagi memperhitungkan dosa2 orang percaya sehingga hubungan Allah dgn manusia di pulihkan.
2. semua manusia telah jatuh di dalam dosa. Atau dengan kata lain tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang dapat menjadi perwakilan dari manusia( berhubungan dengan no 1.).
oleh karena itu, Firman yang adalah Allah, harus berinkarnasi menjadi manusia untuk mewakili manusia, sebagai “Anak Domba Allah” yang tidak bercacat dan bernoda.
3. manusia adalah makhluk ciptaan yang terbatas, sehingga seorang manusia biasa tidak mungkin menanggung dosa banyak orang.
Oleh karena itu, hanya Allah yang tidak terbatas(Allah 100%) yang mampu menanggung dosa banyak orang. Sehingga Firman yaitu Kristus, harus berinkarnasi menjadi manusia. Mengapa harus menjadi manusia 100%?? Karena yang diwakilinya adalah manusia, maka Ia harus menjadi manusia 100%. Hal ini berhubungan dgn no 1 dan 2.
jadi jika kita mengimani bahwa saat inkarnasi Yesus adalah Allah 0% dan manusia 100%, maka timbul permasalahan yaitu Yesus bukan pengantara yg sempurna. Krn sbg Allah 0% dan manusia 100%, maka Ia hanya bisa jadi perwakilan dari manusia, dan tidak bisa menjadi perwakilan dari Allah.
sedangkan sbg pengantara yg sempurna, Ia harus mewakili dari kedua belah pihak.
Perlunya Keilahian-Nya. Dalam rencana keselamatan Allah sangatlah penting bahwa Pengantara itu harus juga Allah yang sejati. Hal ini penting dengan tujuan,
1. Ia dapat membawa korban yang nilainnya tanpa batas dan memberikan ketaatan yang sempurna kepada hukum Allah
2. Ia dapat menanggung murka Allah dan membawa penebusan, shg Ia dapat membebaskan orang lain dari kutukan hukum
3. Ia dapat menerapkan buah-buah karya-Nya yang telah diselesaikan-Nya bagi mereka yang menerima-Nya dengan iman.
Manusia dgn hidupnya yg telah rusak, tidak dapat membayar upah dosa atau melakukan ketaatan yg sempurna kpd Allah. manusia hanya dapat menanggung murka Allah, dan kalau Anugerah Allah yg menebusnya tidak ada,maka yg dapat dilakukan manusia hanyalah menanggung kutukan murka itu selamanya. Ia tidak dapat menanggungnya sambil membuka jalan untuk membebaskan diri.
Note: dan jangan lupa hanya Allah yang merupakan sumber hidup, shg hanya Allah yg dapat memberikan hidup yang kekal. Shg org2 yg ditebusnya beroleh hidup yg kekal.
Jika guru anda mengimani bahwa apa yg dilakukan Yesus adalah semata2 pekerjaan Roh Kudus dan bukan atas kuasa diriNya sendiri, hal ini justru membuktikan kebidatannya. Krn pada saat ia mengajarkan hal tsb justru sedang mengabaikan ajaran Allah TriTunggal.
Doktrin Allah TriTunggal mengajarkan bahwa Allah esa sekaligus 3 pribadi. Yaitu esa secara essensi namun memiliki 3 pribadi. Dalam hal keesaan Allah maka kita dapat mengatakan bahwa karya Yesus adalah karya Allah shg karya keselamatan/ penebusan adalah karya Allah. jika guru anda bilang benar hal tsb, karena Roh Kudus juga Allah dan Ia yg melakukan karya tsb, maka dalam hal ini ia berbicara tentang karya dari masing2 pribadi Allah dlm hal keselamatan, maka dengan demikian ia sudah menyangkal karya masing2 pribadi Allah dalam keselamatan karena dgn mengatakan bahwa itu adalah semata2 karya Roh Kudus dan bukan karya dari pribadi kedua yaitu Putra maka ia bukan lagi mengimani Allah TriTunggal melainkan dwitunggal dalam karya keselamatan karena pribadi kedua tidak melakukan apa2 dlm karya keselamatan.
Perhatikan kalimat Yesus pada saat Ia mengampuni dosa. kita harus memahami bahwa hanya Allah yg dapat mengampuni dosa. Yesus mengatakan
Mat 9:6 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa"
Dari ayat diatas maka kita dapat mengetahui bahwa kuasa mengampuni adalah kuasa Allah, dan Yesus mengatakan bahwa “Anak Manusia”, kata tsb merujuk kpd Diri Yesus Kristus bahwa Ia berkuasa utk mengampuni dosa. Yesus Yesus tidak mengatakan dgn kuasa Roh Kudus, Aku mengampuni engkau. Bahkan jika kita baca kalimat awalnya Yesus menyatakan bahwa “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini…” , kalimat ini menunjukkan bahwa walaupun pribadi kedua dari Allah TriTunggal dalam Inkarnasi , Ia tetap berkuasa utk mengampuni.
Kemudian yg kedua, jika Yesus waktu Inkarnasi bukan Allah dan hanya manusia saja maka Ia tidak bisa menerima orang yg menyembah Dia spt di (Mat 14:33). Jika guru anda mengatakan Ia bisa menerima penyembahan karena Yesus dipenuhi Roh Kudus, maka saya katakan nabi Yohanes juga dipenuhi oleh Roh Kudus tapi Ia tidak bisa menerima penyembahan, demikian juga nabi2 lainnya.
Yoh 5:21 Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.
Ayat diatas menyatakan kesatuan sekaligus masing2 karya dari pribadi Allah TriTunggal dalm hal ini pribadi pertama dan kedua, kesatuannya adalah bahwa apa yg dikerjakan oleh Bapa maka itu pula yg dikerjakan oleh Anak, artinya karya Anak sinkron dgn Bapa-Nya. Kedua, ayat tsb juga menunjukkan bahwa masing2 pribadi berkarya, jadi jika guru anda mengatakan bahwa Roh Kudus lah yg berkarya maka ini sama juga mengatakan bahwa pribadi kedua tidak berkarya. Dalam hal ini saya bukan mau mengatakan bahwa Roh kudus tidak berkarya dalam membangkitkan or2 mati, justru jika kita melihat kesatuan dari Allah TriTunggal maka kita dapat memahami bahwa kebangkitan org2 mati ,ketiga pribadi berkarya sebagai satu kesatuan dalam hal ini.
Semoga penjelasan saya yg singkat ini dapat dipahami.
Haryo Y,
GKAG, GM
Bs jadi dia ikut sekte unitarian, saksi yehovah atau bahkan
YHWHisme.
Biasanya unitarian dan saksi yehuvah serta YHWHisme membedakan Yesus Kristus pada saat di dunia dan pada saat di surga. itu ngawur
Memang sebelum Anak Allah itu berinkarnasi, Ia hanya Allah saja; Ia adalah 100 % Allah, dan 0 % manusia. Tetapi sejak inkarnasi dan seterusnya, Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, atau 100 % Allah, dan 100 % manusia.
Saksi-Saksi Yehuwa, berpandangan bahwa setelah kematian dan kebangkitanNya, Yesus kehilangan kemanusiaanNya. Ini salah! Apa dasarnya mengatakan bahwa itu salah?
1. Yesus mengambil hakekat manusia / kemanusiaan yang sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa.
Ibr 2:14-17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.
Ia tidak perlu menjadi manusia yang berdosa baru bisa disebut manusia, karena dosa bukanlah hakekat dari manusia. Pada waktu Adam itu masih suci, ia sudah adalah manusia.
Sekarang, kalau Yesus menjadi manusia yang sama dengan kita, maka manusia Yesus itu haruslah kekal. Tentu bukan kekal ke belakang / masa lalu, karena kita juga tidak demikian. Ada saat dimana kita tidak ada. Demikian juga dengan manusia Yesus. Tetapi kita kekal ke depan / masa yang akan datang. Kalau kita mati, kita tidak musnah, tetapi hanya pindah tempat (surga atau neraka). Jadi, kalau manusia Yesus itu sama dengan kita, manusia Yesus itu juga harus kekal ke depan / masa yang akan datang. Jadi, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke surga, sama sekali tidak membuang kemanusiaanNya. TubuhNya memang dimuliakan pada saat bangkit dan naik ke surga, tetapi tetap tubuh, dan Ia tetap adalah Allah dan manusia sampai selama-lamanya! Dan bahkan nanti kalau Yesus datang kembali kedua-kalinya, Ia datang sebagai Allah dan manusia dalam 1 pribadi!
2. 1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.
Kapan ayat ini ditulis? Jelas setelah Yesus naik ke surga. Tetapi Paulus tetap menyebutNya sebagai ‘manusia Kristus Yesus’.
Karena itu, kalau pada saat hidup di dunia ini Yesus berulangkali menyebut Bapa dengan sebutan ‘AllahKu’, lalu apa salahnya tetap menyebutNya demikian setelah Ia naik ke surga?
Baik Yoh 14:28 maupun Mat 24:36 adalah ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus, dan kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah.
Baik Unitarian maupun Saksi Yehuwa mempercayai bahwa pada waktu Yesus menjadi manusia, Ia kehilangan keilahianNya / ke-malaikat-anNya, sehingga Ia hanya seorang manusia saja. Tetapi kekristenan mempercayai bahwa pada saat Yesus menjadi manusia, Ia sama sekali tidak kehilangan keilahianNya, sehingga setelah inkarnasi dan seterusnya, Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.
Karena itu dalam Kitab Suci ada banyak ayat yang menunjukkan keilahian Yesus, dan juga ada banyak ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus. Kita tidak boleh menggunakan ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan manusia, dan sebaliknya, kita juga tidak boleh menggunakan ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah.
Tetapi inilah yang justru selalu dilakukan oleh Unitarian / Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka selalu menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah.
Biasanya unitarian dan saksi yehuvah serta YHWHisme membedakan Yesus Kristus pada saat di dunia dan pada saat di surga. itu ngawur
Memang sebelum Anak Allah itu berinkarnasi, Ia hanya Allah saja; Ia adalah 100 % Allah, dan 0 % manusia. Tetapi sejak inkarnasi dan seterusnya, Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, atau 100 % Allah, dan 100 % manusia.
Saksi-Saksi Yehuwa, berpandangan bahwa setelah kematian dan kebangkitanNya, Yesus kehilangan kemanusiaanNya. Ini salah! Apa dasarnya mengatakan bahwa itu salah?
1. Yesus mengambil hakekat manusia / kemanusiaan yang sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa.
Ibr 2:14-17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.
Ia tidak perlu menjadi manusia yang berdosa baru bisa disebut manusia, karena dosa bukanlah hakekat dari manusia. Pada waktu Adam itu masih suci, ia sudah adalah manusia.
Sekarang, kalau Yesus menjadi manusia yang sama dengan kita, maka manusia Yesus itu haruslah kekal. Tentu bukan kekal ke belakang / masa lalu, karena kita juga tidak demikian. Ada saat dimana kita tidak ada. Demikian juga dengan manusia Yesus. Tetapi kita kekal ke depan / masa yang akan datang. Kalau kita mati, kita tidak musnah, tetapi hanya pindah tempat (surga atau neraka). Jadi, kalau manusia Yesus itu sama dengan kita, manusia Yesus itu juga harus kekal ke depan / masa yang akan datang. Jadi, kematian, kebangkitan, dan kenaikanNya ke surga, sama sekali tidak membuang kemanusiaanNya. TubuhNya memang dimuliakan pada saat bangkit dan naik ke surga, tetapi tetap tubuh, dan Ia tetap adalah Allah dan manusia sampai selama-lamanya! Dan bahkan nanti kalau Yesus datang kembali kedua-kalinya, Ia datang sebagai Allah dan manusia dalam 1 pribadi!
2. 1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.
Kapan ayat ini ditulis? Jelas setelah Yesus naik ke surga. Tetapi Paulus tetap menyebutNya sebagai ‘manusia Kristus Yesus’.
Karena itu, kalau pada saat hidup di dunia ini Yesus berulangkali menyebut Bapa dengan sebutan ‘AllahKu’, lalu apa salahnya tetap menyebutNya demikian setelah Ia naik ke surga?
Baik Yoh 14:28 maupun Mat 24:36 adalah ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus, dan kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah.
Baik Unitarian maupun Saksi Yehuwa mempercayai bahwa pada waktu Yesus menjadi manusia, Ia kehilangan keilahianNya / ke-malaikat-anNya, sehingga Ia hanya seorang manusia saja. Tetapi kekristenan mempercayai bahwa pada saat Yesus menjadi manusia, Ia sama sekali tidak kehilangan keilahianNya, sehingga setelah inkarnasi dan seterusnya, Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.
Karena itu dalam Kitab Suci ada banyak ayat yang menunjukkan keilahian Yesus, dan juga ada banyak ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus. Kita tidak boleh menggunakan ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan manusia, dan sebaliknya, kita juga tidak boleh menggunakan ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah.
Tetapi inilah yang justru selalu dilakukan oleh Unitarian / Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka selalu menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah.
Pdt S.
SUBENO M.Div
Ajaran
yang dikatakan guru kamu adalah bidat, yang dulu dikenal dengan Nestorianisme,
dan juga Arianisme.
Ajaran
ini sudah ditentang keras oleh gereja dan dilawan, ditegaskan di dalam Kredo
Athanasius, dimana ditegaskan bahwa di dalam inkarnasinya, Yesus 100% Allah dan
100% manusia.
Bahkan
kemudian orang Kristen meyakini (meskipun tidak perlu ditekankan), bahwa Yesus
100% Allah dan manusia bahwa sejak di dalam kekekalan, bukan tunggu lahir.
Kenosis
sama sekali tidak menghilangkan keallahan Kristus, karena kalau Kristus
kehilangan keallahan, semua yang dilakukan di dunia menjadi sangat manusiawi
dan kehilangan natur keilahian dan tugas keilahiannya. Juga dengan demikian,
nilai inkarnasi menjadi tidak besar, karena mirip seperti manusia biasa.
"Ajaran
yang dikatakan guru kamu adalah bidat, yang dulu dikenal dengan Nestorianisme,
dan juga Arianisme."
apakah
mungkin ini diajarkan oleh Sekolah Theologinya /
Lutheran pak ? (doktrin tercampur bidat?)
Ia mengatakan : Yesus sewaktu
didunia 100% manusia , 0% Allah, maka tindakan mujizat dsb, itu adalah
pekerjaan RK.
Bagaimana cara mematahkan teori
ini dengan dasar Alkitabiah ?
Kayaknya sih sekolah teologi secara resmi sih ndak bakalan. Tapi
kalau dosennya mengajar gitu sih mungkin aja.
Di dalam Alkitab, khususnya di Yohanes, penekanan akan
keilahian Yesus begitu kuat. Sehingga bisa dipatahkan dengan ayat-ayat yang
menunjukkan keilahian Kristus. Dengan demikian, Yesus bukan manusia yang diberi
kuasa dan berada di dalam pimpinan Roh Kudus, seperti Petrus, Paulus, dan
Yohanes. Sangat beda tindakan mereka. Tidak pernah dikatakan bahwa Petrus dan
rasul lain memiliki keilahian di dalam pribadinya. Tetapi Yesus dinyatakan
keilahiannya dan kesetaraan dengan Bapa. Yoh.1:12 dikatakan bahwa FIRMAN yang
di ayat 1 adalah Allah, telah berinkarnasi dan tidak pernah dinyatakan
kehilangan keilahian-Nya. Juga pernyataan dalam tindakan-Nya, bahwa Yesus dan
Bapa adalah satu. Selain itu, ketika Kristus melakukan mujizat, langsung dengan
otoritas Dia sebagai Allah, beda dengan para rasul yang harus menggunakan
otoritas Yesus. Disini kita melihat bahwa Yesus adalah Allah, bukan manusia
yang 100% tanpa keilahian. Yesus sendiri menyatakan posisinya sebagai Anak
Allah, walau Dia tidak pernah perlu secara explicit menyatakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar