Jumat, 02 Desember 2011

Martin Luther's 95 Theses - 95 Dalil Luther

Bantahan Dr. Martin Luther Mengenai Pertobatan dan Surat Pengampunan Dosa

Dengan keinginan dan tujuan untuk menguraikan kebenaran, perdebatan akan diadakan di Wittenberg berdasarkan pernyataan yang disetujui di bawah kepemimpinan Bapa Martin Luther, rahib Ordo St. Agustinus, Master of Arts and of acred Theology, dosen Universitas Wittenberg. Selin itu, ia meminta kepada orang yang tidak bisa hadir dan meakukan diskusi dengan kami secara lisan ten tang topik itu supaya melakukannya melalui surat untuk menggantikan ketidakhadiran mereka. Dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.

1. Tuhan dan Guru kita Yesus Kristus, ketika Ia mengucapkan "Bertobatlah," dan seterusnya, menyatakan bahwa seluruh hidup orang-orang yang percaya harus diwarnai dengan pertobatan.

2. Kata ini tidak boleh dimengerti mengacu kepada hukuman sakramental; maksudnya, berkaitan dengan proses pengakuan dan pelepasan (dosa), yang diberikan oleh imam-imam yang dilakukan di bawah pelayanan imam-imam.

3. Dan, pertobatan tidak hanya mengacu pada penyesalan batiniah; tidak, penyesalan batiniah semacam itu tidak ada artinya, kecuali secara lahiriah menghasilkan pendisiplinan diri terhadap keinginan daging.

4. Jadi, hukuman itu terus berlanjut selama ada kebencian pada diri sendiri - maksudnya, penyesalan batin yang sejati berlanjut: yaitu, sampai kita masuk ke dalam kerajaan surga.

5. Paus tidak memiliki kekuatan maupun kuasa untuk mengampuni kesalahan apa pun, kecuali yang telah ia diberikan dengan otoritasnya sendiri, atau oleh peraturan.

6. Paus tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dosa apa pun, kecuali dengan menyatakan dan menjaminnya te1ah diampuni Allah; atau setidaknya ia dapat memberikan pengampunan pada kasus-kasus yang menjadi tanggung jawabnya, da1am kasus tersebut, jika kuasanya diremehkan, kesalahan akan tetap ada.

7. Allah tidak pernah mengampuni dosa apa pun, tanpa pada saat yang sama Dia menundukkan diri manusia itu, merendahkan diri da1am sega1a sesuatu, kepada otoritas imam, wakilnya.

8. Peraturan pengakuan dosa hanya dikenakan pada orang yang hidup dan tidak seharusnya dikenakan pada orang yang mati; menurut peraturan tersebut.

9. Oleh karena itu Roh Kudus berkarya da1am diri Paus me1akukan hal yang baik bagi kita, sejauh da1am keputusannya, Paus se1a1u membuat perkecualian terhadap aturan ten tang kematian dan nasib seseorang.

10. Imam-imam bertindak salah dan tanpa pengetahuan,jika dalam kasus orang yang sekarat, mengganti hukuman kanonik dengan api penyucian.

11. Benih ilalang tentang mengubah hukuman kanonik menjadi hukuman di api penyucian tampaknya tentu saja telah ditaburkan sementara para uskup tertidur.

12. Pada mulanya, hukuman kanonik dikenakan bukan sesudah, melainkan sebe1um pengampunan, sebagai ujian untuk pertobatan mendalam yang sejati.

13. Orang yang sekarat melunasi semua hukuman dengan kematian, dianggap sudah mati sesuai hukum kanon dan mendapat hak dilepaskan dari hukum kanon.

14. Kebaikan atau kasih yang tidak sempurna dari orang yang sekarat pasti menyebabkan ketakutan yang besar; dan makin sedikit kebaikan atau kasihnya, makin besar ketakutan yang diakibatkannya.

15. Rasa takut dan ngeri tersebut sudah cukup bagi dirinya sendiri, tanpa berbicara hal-hal lain, tanpa ditambah penderitaan di api penyucian karena hal itu sangat de kat dengan kengerian keputusasaan.

16. Neraka, api penyucian, dan surga tampak berbeda seperti halnya keputusasaan, hampir putus asa, dan kedamaian pikiran itu berbeda.

17. Jiwa da1am api penyucian, tampaknya harus seperti ini: saat kengerian menghilang, kasih meningkat.

18. Namun, hal itu tampaknya tidak terbukti dengan penalaran apa pun atau ayat Alkitab mana pun, api penyucian berada di luar kebaikan seseorang atau meningkatnya kasih.

19. Hal itu juga tidak terbukti; bahwa jiwa dalam api penyucian yakin dan mantap dengan berkat mereka sendiri; mereka semua, bahkan jika kita bisa sangat yakin dengan hal tersebut.

20. Oleh karena itu Paus, ketika ia berbicara ten tang pengampunan sepenuhnya dari semua hukuman, itu bukan sekadar bermakna semua dosa, melainkan hanya hukuman yang ia jatuhkan sendiri.

21. Jadi, para pengkhotbah pengampunan dosa, yang berkata bahwa dengan surat pengampunan dosa dari Paus, seseorang dibebaskan dan diselamatkan dari semua hukuman, melakukan kesalahan.

22. Sebab sesungguhnya ia tidak menghapuskan hukuman, yang harus mereka bayar dalam kehidupan sesuai dengan peraturan, bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

23. Jika pengampunan sepenuhnya bagi semua hukuman bisa diberikan kepada seseorang, sudah tentu tidak akan diberikan kepada seorang pun kecuali orang yang paling sempurna - yaitu, kepada sangat sedikit orang.

24. Oleh karena itu sebagian besar orang pasti tertipu dengan janji pembebasan dari hukuman yang bersifat tidak pandang bulu dan sangat manis itu.

25. Kekuasaan seperti itu dimiliki Paus atas api penyucian secara umum, seperti halnya dimiliki setiap uskup di keuskupannya dan setiap imam di jemaatnya sendiri, secara khusus.

26. Paus bertindak dengan benar dengan memberikan pengampunan dosa kepada jiwa-jiwa, bukan dengan kekuasaan kunci-kunci (yang tak ada gunanya dalam hal ini), meLainkan dengan doa syafaat.

27. Orang yang berkata bahwa jiwa seseorang terlepas dari api penyucian segera setelah uang dimasukkan ke dalam peti yang menimbulkan bunyi gemerencing, berkhotbah dengan gila.

28. Sudah tentu, ketika uang yang dimasukkan dalam peti menimbulkan bunyi gemerencing, ketamakan, dan keuntungan mungkin meningkat, tetapi doa syafaat gereja tergantung pada kehendak Allah semata-mata.

29. Siapa tahu apakah semua jiwa di api penyucian ingin dibebaskan darinya atau tidak, sesuai dengan cerita yang dikisahkan tentang Santo Severinus dan Paschal?

30. Tidak ada seorang pun yang yakin tentang realita perasaan berdosanya sendiri, terlebih-lebih pencapaian pengampunan dosa seluruhnya.

31. Seperti halnya petobat sejati itu jarang, demikian juga orang yang sungguh-sungguh membeli surat pengampunan dosa itu jarang - maksudnya, sangat jarang.

32. Orang yang percaya bahwa, melalui surat pengampunan dosa, mereka dijamin mendapatkan keselamatan mereka, akan dihukum secara kekal bersama dengan guru-guru mereka.

33. Kita harus secara khusus berhati-hati terhadap orang yang berkata bahwa surat pengampunan dari Paus ini merupakan karunia Allah yang tak ternilai harganya, yang menyebabkan seseorang diperdamaikan dengan Allah.

34. Sebab kasih karunia yang disalurkan melalui pengampunan ini hanya berkaitan dengan hukuman untuk memenuhi hal-hal yang bersifat sakramen, yang ditentukan oleh manusia.

35. Orang yang mengajar bahwa penyesalan yang mendalam itu tidak diperlukan oleh orang-orang yang membeli jiwa-jiwa keluar dari api penyucian atau membeli lisensi pengakuan, tidak mengkhotbahkan doktrin Kristen.

36. Setiap orang Kristen yang merasakan penyesalan yang sejati akan mendapatkan pengampunan dosa seluruhnya yang sejati dari penderitaan dan rasa bersalah, bahkan meskipun tanpa surat pengampunan dosa.

37. Setiap orang Kristen sejati, entah yang hidup atau yang mati, mendapatkan bagian dalam semua berkat Kristus dan gereja yang diberikan kepadanya oleh Allah meskipun tanpa surat pengampunan dosa.

38. Namun, pengampunan dosa, yang dilakukan oleh Paus, tidak boleh dipandang rendah dengan cara apa pun sebab pengampunan, seperti saya katakan, merupakan pernyataan pengampunan dosa dari Allah.

39. Menekankan dampak pengampunan dosa yang besar dan pada saat yang sama menekankan pentingnya penyesalan yang sejati di mata orang-orang, merupakan hal yang paling sulit, bahkan juga untuk teolog yang paling terpelajar sekalipun.

40. Penyesalan yang sejati mendambakan dan mencintai hukuman, sementara hadiah pengampunan dosa menjadikannya lega dan membuat manusia membencinya, atau paling tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk membencinya.

41. Pengampunan dosa apostolikharus dinyatakan dengan penuh hati-hati,jika tidak, orang-orang secara salah akan menduga hal itu diletakkan pada perbuatan baik kasih lainnya.

42. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa Paus tidak pernah berpikir bahwa pembelian surat pengampunan dosa dalam cara apa pun bisa dibandingkan dengan karya kasih karunia.

43. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa orang yang memberi kepada orang miskin, atau memberi pinjaman kepada orang yang kekurangan, berbuat lebih baik daripada jika ia membeli surat pengampunan dosa.

44. Karena, me1alui kasih, kasih meningkat, dan manusia menjadi lebih baik; sementara melalui surat pengampunan dosa, ia tidak menjadi lebih baik, tetapi hanya lebih bebas dari hukuman.

45. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa orang yang memandang seseorang yang kekurangan dan melewatinya, memberikan uang untuk mendapatkan pengampunan dosa, tidak sedang membeli surat pengampunan dosa dari Paus untuk dirinya sendiri, tetapi murka Allah.

46. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, kecuali mereka memiliki kekayaan yang berlimpah, mereka terikat untuk melakukan hal yang perlu untuk dipakai bagi keperluan rumah tangga mereka sendiri dan dengan cara apa pun tidak boleh menghamburkannya untuk mendapatkan surat pengampunan.

47. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, meskipun mereka bebas untuk membeli surat pengampunan dosa, mereka tidak diwajibkan untuk melakukannya.

48. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa Paus, dalam memberikan pengampunan, memiliki kebutuhan lebih banyak dan keinginan lebih banyak agar doa yang tekun dinaikkan baginya, daripada uang yang sudah siap untuk dibayarkan.

49. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa pengampunan dari Paus itu berguna,jika mereka tidak meletakkan kepercayaan mereka penyucian; tetapi paling berbahaya, jika melaluinya mereka kehilangan rasa takut mereka kepada Allah.

50. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa,jika Paus mengetahui tuntutan para pengkhotbah pengampunan dosa, ia akan lebih menyukai jika Basilika St. Petrus dibakar sampai menjadi abu, daripada dibangun dengan kulit, daging, dan tulang domba-dombanya.

51. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, seperti halnya merupakan kewajiban, demikian juga itu merupakan harapan Paus yang jika perlu menjual Basilika St. Petrus dan memberikan uangnya sendiri kepada banyak orang, yang darinya para pengkhotbah pengampunan dosa menarik uang.

52. Sia-sialah harapan untuk mendapatkan keselamatan melalui surat-surat pengampunan dosa, bahkan sekalipun itu komisaris, tidak, bahkan Paus sendiri - harus menjanjikan jiwanya sendiri bagi mereka.

53. Orang yang, demi memberitakan pengampunan dosa, mengutuk firrnan Allah untuk meredakan ketenangan di gereja lainnya, adalah musuh Kristus dan Paus.

54. Kesalahan dilakukan terhadap firman Allah jika, dalam khotbah yang sama, waktu yang sama atau lebih lama dihabiskan untuk membahas surat pengampunan daripada untuk membahas firman Allah.

55. Menurut pikiran Paus jika surat pengampunan, yang merupakan masalah yang sangat kecil, dirayakan dengan satu bel, satu prosesi, dan satu seremoni; Injil, yang merupakan masalah yang sangat besar, seharusnya diberitakan dengan ratusan bel, ratusan prosesi, dan ratusan seremoni.

56. Kekayaan gereja yang menyebabkan Paus mengeluarkan surat pengampunan dosa, tidak cukup didiskusikan atau dikenal di antara umat Kristus.

57. Tampak jelas bahwa kekayaan tersebut bukanlah kekayaan semen tara; sebab kekayaan tersebut tidak untuk dibagikan secara gratis, tetapi hanya ditimbun oleh banyak pengkhotbah surat pengampunan dosa.

58. Kekayaan itu juga bukan kebaikan Kristus dan para Rasul; sebab tanpa peran Paus, kebaikan selalu menghasilkan kasih karunia kepada manusia rohani; dan salib, kematian, dan neraka bagi manusia lahiriah.

59. St. Lawrence berkata bahwa harta benda gereja adalah orang-orang miskin di gereja, tetapi ia berbicara menurut penggunaan kata itu pada zamannya.

60. Kami tidak tergesa-gesa berbicara jika kami berkata bahwa kunci gereja, yang diserahkan melalui kebaikan Kristus, adalah kekayaan itu.

61. Sangat jelas bahwa kuasa Paus pada hakikatnya sudah memadai untuk mengampuni hukuman dan kasus-kasus yang khusus diberikan padanya.

62. Kekayaan gereja yang sejati adalah Injil Kudus dari kemuliaan dan kasih karunia Allah.

63. Namun, kekayaan itu paling dibenci karena membuat orang yang pertama menjadi yang terkemudian.

64. Sementara kekayaan surat pengampunan dosa paling diterima karena membuat yang terakhir menjadi yang pertama.

65. Oleh karena itu kekayaan Injil adalah jala, yang pada mulanya digunakan untuk menjala orang kaya.

66. Kekayaan surat pengampunan dosa adalah jala yang sekarang digunakan untuk menjala kekayaan orang.

67. Surat pengampunan dosa, yang dipromosikan secara jelas oleh para pengkhotbah sebagai kasih karunia terbesar, dipandang sungguh-sungguh seperti itu sepanjang berkaitan dengan meningkatnya keuntungan.

68. Namun, dalam kenyataan, surat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kasih karunia Allah dan kesalehan karena salib.

69. Uskup dan imam terikat untuk menerima komisaris kepausan yang mengurusi surat pengampunan dengan segala kehormatannya.

70. Namun, mereka masih terikat untuk melihatnya dengan segenap mata mereka dan memerhatikan dengan segenap telinga mereka supaya orang-orang ini tidak mengkhotbahkan keinginan mereka sendiri, namun mengkhotbahkan apa yang diperintahkan oleh Paus.

71. Biarlah orang yang berbicara menentang kebenaran surat pengampunan dosa Paus terkucil dan terkutuk.

72. Namun, pada sisi lain, orang yang mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menentang hawa nafsu dan penye1ewengan kebebasan para pengkhotbah pengampunan, biarlah ia diberkati.

73. Seperti halnya Paus secara adil menghardik orang yang menggunakan berbagai cara untuk merusak perdagangan surat pengampunan.

74. Terlebih-lebih jika ia menghardik orang yang, dengan dalih surat pengampunan, menggunakannya sebagai alasan untuk merusak kasih kudus dan kebenaran.

75. Berpikir bahwa sur at pengampunan Paus memiliki kuasa sedemikian sehingga mereka bisa membebaskan manusia bahkan jika - meskipun itu tidak mungkin - ia telah bersalah kepada Bunda Allah, merupakan kegilaan.

76. Sebaliknya, kami meneguhkan bahwa surat pengampunan Paus tidak bisa menghapuskan dosa paling remeh sekalipun, sepanjang hal itu terkait dengan kesalahannya.

77. Ungkapan yang mengatakan bahwa seandainya St. Petrus menjadi Paus sekarang, ia tidak bisa memberikan kasih karunia yang lebih besar, merupakan penghujatan kepada St. Petrus dan Paus.

78. Kami sebaliknya meneguhkan bahwa Paus saat ini atau Paus lain mana pun memiliki kasih karunia yang lebih besar yang dapat digunakan menurut kehendaknya - yaitu, InjiI, kuasa, karunia kesembuhan, dan sebagaimana tertulis (1 Korintus XII.9.)

79. Mengatakan bahwa salib yang dihiasi panji-panji kepausan merniliki kuasa yang sama dengan salib Kristus, merupakan penghujatan.

80. Uskup, imam, dan teolog yang mengizinkan khotbah semacam itu beredar di antara umat, harus memberikan pertanggung-jawaban.

81. Khotbah mengenai surat pengampunan dosa yang tidak terkontrol ini bukanlah hal yang mudah, bahkan juga bagi orang terpelajar, tidak bisa menyelamatkan Paus dari fitnah, atau, dalam semua peristiwa, pertanyaan kritis kaumawam.

82. Misalnya: "Mengapa Paus tidak mengosongkan api penyucian demi kasih yang paling kudus, dan kebutuhan jiwa yang mendesak - ini menjadi yang paling benar dari semua alasan - jika ia menebus jumlah jiwa yang tidak terbatas demi hal yang paling hina, uang, untuk digunakan membangun Basilika - ini menjadi alasan yang paling sepele?"

83. Sekali lagi: "Mengapa misa penguburan dan misa peringatan hari kematian masih berlanjut, dan mengapa Paus tidak mengembalikan, atau mengizinkan penarikan dana yang diwariskan untuk tujuan ini; karena hal ini merupakan kesalahan untuk berdoa bagi orang-orang yang sudah ditebus?"

84. Sekali lagi: "Apakah karena kesalehan yang baru kepada Allah dan Paus, maksudnya, demi uang, pejabat gereja mengizinkan orang yang tidak beriman dan musuh Allah untuk menebus jiwa-jiwa yang saleh dan mengasihi Allah dari api pencucian, namun tidak menebus jiwa yang saleh dan terkasih itu, berdasarkan kasih yang cuma-cuma, demi kebutuhannya jiwa-jiwa itu sendiri?"

85. Sekali lagi: "Mengapa peraturan tentang penyesalan dosa, yang sudah lama dihapuskan dan mati dalam kenyataannya karena tidak digunakan, sekarang dipatuhi lagi dengan memberikan surat pengampunan dosa, seolah-olah peraturan-peraturan tersebut masih hidup dan berlaku?"

86. Sekali lagi: "Mengapa Paus, yang kekayaannya saat ini jauh lebih banyak daripada orang yang paling kaya di antara orang kaya, tidak membangun Basilika St. Petrus dengan uangnya sendiri, sebaliknya dengan uang dari. orang-orang percaya yang miskin?"

87. Sekali lagi: "Apa yang diampuni at au dianugerahkan Paus kepada orang-orang, yang dengan penyesalan yang dalam dan sempurna, merniliki hak untuk mendapatkan pengampunan dan berkat yang sempurna?

88. Sekali lagi: "Berkat yang lebih besar apakah yang akan diterima gereja jika Paus, tidak satu kali, seperti yang ia lakukan sekarang, memberikan peng¬ampunan dosa dan berkat seratus kali sehari kepada setiap orang yang setia dalam iman?"

89. Oleh karen a keselamatan jiwa, bukannya uang, yang dicari Paus melalui surat pengampunannya, mengapa ia menunda surat-surat dan pengampunan dosa yang diberikan sejak lama karen a keduanya sama-sama manjur?

90. Untuk menindas keberatan dan argumen kaum awam dengan kekuatan semata-mata dan tidak menyelesaikannya dengan memberikan penjelasan, berarti memberi kesempatan kepada gereja dan Paus untuk dicemooh musuh-rnusuh mereka dan membuat orang-orang Kristen tidak senang.

91. jika, kemudian, pengampunan dikhotbahkan sesuai semangat dan pikiran Paus, sernua pertanyaan ini akan diselesaikan dengan mudah - tidak, bahkan tidak akan ada.

92. Jadi, menyingkirlah, semua nabi yang berkata kepada umat Kristus, "Damai, damai," dan tidak ada damai!

93. Diberkatilah semua nabi yang berkata kepada umat Kristus, "Salib, salib," dan tidak ada salib!

94. Orang-orang Kristen harus dinasihati untuk setia mengikuti Kristus Sang Kepala mereka melalui penderitaan, kematian, dan neraka.

95. Dan dengan demikian yakin untuk memasuki surga melalui penganiayaan, bukannya melalui damai sejahtera yang palsu.

PERNYATAAN

Saya, Martin Luther, Doktor, dari Ordo Rahib di Wittenberg, ingin menyatakan di depan umum bahwa dalil tertentu menentang sur at pengampunan dosa Paus, sebagaimana mereka menyebutnya, te1ah saya cetuskan. Meskipun demikian, sampai saat ini, tidak ada aliran kita yang paling terkenal dan termasyhur, ataupun kekuatan sipil dan keimaman telah mengecam saya, tetapi seperti yang saya dengar, ada beberapa orang yang memiliki sikap tidak berpikir panjang dan lancang, yang berani mengatakan bahwa saya bidat, seolah-olah masalah ini sudah diamati dan dipelajari dengan teliti. Namun, menurut saya, seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya, demikian juga sekarang, saya memohon kepada semua orang dengan iman Kristus, agar menunjukkan kepada saya jalan yang lebih baik, jika jalan yang semacam itu sudah dinyatakan Allah kepadanya, atau paling tidak untuk memberikan pendapat mereka ten tang penilaian Allah dan gereja. Sebab saya tidak begitu terburu-buru untuk berharap bahwa pendapat saya semata yang lebih disukai daripada pendapat semua orang lain, atau tidak bodoh sehingga bersedia membiarkan firman Allah dijadikan dongeng yang direkayasa oleh penalaran manusia.

Disalin dari :

John Foxe, Foxe's Book of Martyrs, Kisah Para Martir tahun 35-2001, Andi, 2001, p. 327- 335

Artikel terkait :

KISAH PARA MARTIR, XII. Karya dan Penganiayaan Terhadap Martin Luther (1517-1546), di http://www.sarapanpagi.org/kisah-para-m ... .html#p4520

- MARTIN LUTHER, di http://www.sarapanpagi.org/martin-luther-vt69.html

Sola Fide (hanya iman) Atau Iman & perbuatan ?



Yakobus 2:14-26 Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati

Iman dan Perbuatan, Yakobus 2:14-26

Yakobus 2:14-26 Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati

2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,

2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku."

2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?

2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."

2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?

2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

sumber :http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=263

Pertentanganya dengan Sola Fide :

Roma 1:17

*LAI TB, Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

*Manusia dibenarkan karena iman (Roma 3:21-26)

*Roma 3:27

Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! *Efesus 2:8

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

*Efesus 2:9 yang mengatakan bahwa keselamatan oleh iman "bukan hasil pekerjaanmu : jangan ada orang yang memegahkan diri"sekilas info :

Dalam Luther's German translation (1545), Luther menambahkan kata "allein (alone)" untuk Roma 3:28 ini, yang seharusnya "...is justified by faith... (Pembenaran oleh Iman)" menjadi "...is justified by faith alone... (Pembenaran hanya oleh Iman)"

Dalam naskah Yunani kata 'hanya/ allein (alone)' itu memang tidak ada. Namun, terjemahan itu sesuai dengan maksud ayat ini. Sebab di dalamnya 'iman' dipertentangkan dengan 'perbuatan'. Setiap cara mengupayakan pembenaran di luar iman merupakan 'perbuatan'. Karena itu, kita boleh saja menerjemahkan 'hanya oleh iman'. Karena inipun juga sesuai dengan maksud Rasul Paulus dalam perikop Roma 3:21-4:25, bahwa keselamatan diperoleh dari iman kepada Tuhan Yesus Kristus (saja) tidak perlu embel-embel melaksanakan syriat Taurat.Kotbah :SOLA FIDE

Berikut cuplikan kotbah seorang pdt.yg membahas ttg doktrin ini.

Ayat 14b merupakan kalimat berbahaya.Karena sejak Yesus sampai Paulus,prinsip diselamatkan karena iman sudah dibakukan.Kata Yesus:imanmu menyelamatkan.Kata Paulus:kamu yg tidak bisa menggenapi Taurat lewat kelakuan,dgn beriman pada kristus akan diselamatkan (Roma3).Diselamatkan lewat apa,kelakuan?tidak melainkan lewat iman (efesus2:8).Lalu mengapa Yakobus berkata dapatkah iman menyelamatkan?Apakah dia bertentangan dgn Paulus?Hari ini kita hrs menyelesaikan dua prinsip yg sepertinya berkonflik besar ini:justified by faith atau justified by deed?.Org reformed & protestan menekankan sola fide tapi menurut katolik iman perlu ditambah dgn perbuatan baik.

Perhatikan:Paulus dan Yakobus menggunakan istilah yg sama iman dan kelakuan dgn konotasi yg berbeda.Baruch Spinoza yg hidup 300 thn lampau di Amsterdam mengatakan:all debates started from the same terminology used in different understanding or definition.

1.yg dimaksud Paulus dgn kelakuan tak bisa menyelamatkan adalah:tak seorangpun yg perbuatan baiknya bisa diperhitungkan sbg jasa yg bisa dia tukar dgn keselamatan Yesus Kristus.Karena di hadapan Allah perbuatan baik kita bagaikan pakaian yg compang-camping (yes 64).Org yg kira dirinya sanggup menggenapkan semua tuntutan taurat akhirnya gagal,dia datang dan percaya kpd Yesus karena hanya Dia yg bisa menyelamatkan.Kita diselamatkan oleh iman.Terjemahan indonesia kurang tepat,seharusnya justified through(melalui) faith.Perampok yg disebelah Yesus diselamatkan hanya dgn satu doa:oh Yesus ingatlah aku waktu Kau memperoleh kerajaanMu.Jawab Yesus:Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu Aku akan bersamamu in paradise even today.

Perhatikan: Iman Paulus dan Yakobus maksudkan itu ternyata berbeda.Iman yg Paulus maksud adalah bersandar pada kristus utk beroleh keselamatan,sementara yg Yakobus maksudkan adalah kepercayaan secara intelek dan lisan saja,iman yg berbentuk confession.

2.Kelakuan yg Paulus maksudkan berbeda dgn yg Yakobus maksudkan.Yg Paulus maksudkan adalah tidak mau menerima Yesus,hanya membangga-banggakan diri,kelakuan seperti itu tak mungkin menyelamatkan.Sementara kelakuan yg Yakobus maksudkan adalah result,fruit of a true faith.Jadi yg Yakobus maksudkan dgn kelakuan adalah buah keselamatan sementara yg Paulus maksudkan dgn kelakuan adalah syarat utk menerima keselamatan.

3.Perlukah kita beriman?perlu,karena iman adalah dasar kita berkelakuan baik.Tapi kelakuan baik tak bisa diperhitungkan sbg jasa dan menukarkannya dgn keselamatan.Bible leaves no room for human merit in obtaining salvation,karena keselamatan diberi berdasarkan sola gratia (only by the grace of God).Jadi iman dan kelakuan adalah satu kesatuan yang tidak boleh di-disintegerasikan,dipisahkan,bahkan hrs dipelihara keseimbangannya,sama seperti kepala tidak bisa hidup tanpa tubuh,tubuh juga tidak dapat dipisahkan dari kepala.Dgn iman kita datang pada Tuhan,kita menerima anugerah,kita diberi hidup baru yg menjadi pangkalan kita membuahkan perbuatan baik.Jadi iman mendahului kelakuan,namun iman dan perbuatan harus sinkron.Kalau seseorang hanya beriman tapi tdk berkelakuan,itu tandanya imannya palsu,mati.Karena iman dan kelakuan harus nyata sbg satu kesaksian yg utuh:di dlm diri kita ada iman,di luar diri kita ada kelakuan.Iman adalah fondasi,kelakuan adalah buah,Waktu sebatang pohon berbuah,menandakan pohon itu masih hidup.Pohon yg hidup adalah pohon yg berbuah sementara pohon yg sdh mati tak bisa berbuah.Buah adalah tanda:hidup.

Paulus menuliskan di surat korintus kita bukan hidup berdasarkan hal yg tampak,melainakan iman yg invisible.Tapi yakobus sengaja mengkonfrontasikan keduanya,imanmu yg tdk kulihat dan kelakuanku yg bisa kau lihat.Apa maksudnya?Allah tahu akan imanmu yg tak dilihat org,tapi manusia tak mungkin melihat imanmu yg tak nampak,maka kita tdk bisa hanya hidup dgn iman,tidak menyatakannya lewat kelakuan.Karena kelakuan yg didasari iman itu hidup adanya,tapi iman yg tidak mebuahkan kelakuan itu mati adanya.

Di bagian ini ,yakobus menyatakan dgn jelas:dia tdk menginginkan iman dan perbuatan berjalan sendiri2,iman perlu disempurnakan lewat perbuatan,karena perbuatan adalah bukti bahwa imannya itu benar.Iman yg sejati pasti terpancar lewat kehidupannya.

Saat kita berbicara ttg iman,seringkali kita berhenti pada pengertian dan pengakuan scr rasio,itu bukan iman..

Apa hubungannya iman dgn kelakuan?Jika kau punya iman yg sejati,tentu kau akan mewujudkannya dlm kelakuanmu.Kapan kita tahu iman seseorang sejati atau tidak?saat dia dituntut utk melakukan apa yg dia imani.Maka kelakuan adalah batu penguji yg paling bisa dipercaya.Didalam hal iman,kaum injili hanya mengenal dua hal:trust,obey-trust pada Allah,obey menyatakan dirinya sungguh-sungguh beriman.Tapi apa cukup hanya trust and obey saja?tidak ,itu sebebnya teologi reformed menekankan:firman.Iman berasal dari mana?firman.Apa yg kita pakai sbg sbg petunjuk kelakuan?firman.Jadi mengerti firman sbg dasar kita beriman dan berkelakuan.Maka bagi saya,iman adalah trust,understand,and obey.Sebagaimana tubuh tanpa jiwa mati adanya,iman tanpa kelakuan juga mati adanya
Penjelasan atas posting berisi cuplikan kotbah dr Pdt.Dr.Stephen Tong.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Philip Melanchton berkata: “‘faith justifies’ and ‘faith does not justify’ are plain contradiction. Whoever can reconcile them, on him I will put my cap, and allow him to call me a fool” (= ‘iman membenarkan’ dan ‘iman tidak membenarkan’ adalah kontradiksi yang nyata. Siapapun dapat memperdamaikan mereka, padanya aku akan memakaikan topi, dan mengijinkannya menyebutku orang tolol).

Ada beberapa hal yang perlu dimengerti untuk bisa memperdamai­kan / mengharmoniskan Paulus dan Yakobus:

1) Adanya perbedaan tujuan.

Paulus menuliskan suratnya untuk orang-orang yang terpengaruh oleh ajaran Yahudi yang menekankan keselamatan karena perbuatan baik.

Bdk. Kis 15:1-2 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu”.

Karena itu Paulus justru mene­kankan habis-habisan bahwa hanya imanlah yang menyebabkan kita diselamatkan (Gal 2:16,21 Ef 2:8-9).

Tetapi Yakobus menulis kepada orang-orang yang sekalipun mengaku sebagai orang kristen, tetapi hidupnya sama sekali tidak mirip hidup kristen. Karena itu ia justru menekankan perbuatan baik.

2) Adanya perbedaan penggunaan istilah.

a) Istilah ‘pekerjaan / perbuatan baik’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini maka ia memaksudkannya sebagai sesuatu yang digunakan untuk menyelamatkan diri kita. Karena itu maka ia berkata bahwa perbuatan baik tidak diperlukan (yang menyebabkan kita selamat hanyalah iman!).

Tetapi kalau Yakobus menggunakan istilah ini, ia memaksud­kannya sebagai akibat / hasil dari keselamatan. Karena itu ia mengatakan bahwa perbuatan baik harus ada dalam diri orang kristen.

b) Istilah ‘iman / percaya’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini, maka ia menunjuk pada iman kepada Yesus Kristus.

Tetapi kalau Yakobus menggunakan istilah ini, maka ia memaksudkan ‘pengakuan percaya dengan mulut’ (bdk. ay 14 - ‘seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman’).

Calvin: it appears from the first words, that he speaks of false profession of faith: for he does not begin thus, ‘If any one has faith;’ but, ‘If any says that he has faith;’ by which he certainly intimates that hypocrites boast of the empty name of faith, which really does not belong to them [= kelihatan dari kata-kata pertama, bahwa ia (Yakobus) berbicara tentang pengakuan iman yang palsu: karena ia tidak memulai demikian, ‘Jika seorang mempunyai iman’; tetapi ‘Jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman’; dengan mana ia pasti mengisyaratkan bahwa orang-orang munafik membanggakan tentang nama / sebutan yang kosong dari iman, yang sesungguhnya bukan milik mereka].

c) Istilah ‘dibenarkan’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini, maka artinya adalah ‘orangnya dibenarkan oleh Allah’.

Tetapi kalau Yakobus memakai istilah ini, maka maksudnya adalah ‘pengakuan orang itu yang dibenarkan’ (artinya: pengakuannya benar / tidak dusta).

Catatan:

1. Kita harus membedakan arti dari istilah-istilah ini, karena kalau tidak, maka kita akan betul-betul mendapatkan kontradiksi yang tidak terhamoniskan antara Yakobus dan Paulus.

2. Kalau saudara mau mengerti Yak 2:14-26 ini dengan benar, maka adalah sesuatu yang mutlak penting bagi saudara untuk mengingat dengan baik cara Yakobus menggunakan istilah-istilah di atas!

Kesimpulan:

Dalam Yak 2:14-26 ini Yakobus punya satu tujuan pengajaran: pengakuan percaya tidak boleh / tidak bisa dipisahkan dari perbuatan baik. Sebaliknya pengakuan percaya harus dibuktikan kebenarannya melalui perbuatan baik.

Mungkin ia menuliskan bagian ini untuk memberi keseimbangan terhadap doktrin salvation by faith (= keselamatan oleh iman) yang diajarkan oleh Paulus.

Iman / pengakuan tanpa perbuatan.

1) Yakobus berkata bahwa ‘iman / pengakuan percaya tanpa perbu­atan’ tidak menyelamatkan (ay 14).

Untuk ini ia memberikan suatu illustrasi dalam ay 15-16: “(15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, (16) dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?”.

Saya berpendapat bahwa dari illustrasi yang digunakan oleh Yakobus ini terlihat bahwa ia tidak bermaksud untuk mengajarkan doktrin sesat ‘salvation by works’ (= keselamatan oleh perbuatan baik), karena illustrasi yang ia berikan intinya adalah ‘kata-kata tanpa tindakan, tidak ada gunanya’. Jadi, dalam realitanya, ‘pengakuan iman (bukan ‘iman itu sendiri’), tanpa tindakan / perbuatan, tidak ada gunanya’.

2) Yakobus juga berkata bahwa iman seperti itu adalah mati / kosong (ay 17,20,26).

Ay 17,20,26: “(17) Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. ... (20) Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? ... (26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”.

Ini tidak berarti bahwa mula-mula imannya ada / hidup, lalu menjadi mati.

Artinya adalah bahwa pengakuan orang itu adalah pengakuan yang kosong, dan ini jelas menunjukkan bahwa orang itu sebetulnya sama sekali tidak mempunyai iman! Karena itu imannya tidak bisa ditunjukkan. Bdk. ay 18: “Tetapi mungkin ada orang berkata: ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia: ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’”.

Dalam ay 18 ini Yakobus membandingkan 2 orang:

a) Orang yang pertama (yaitu Yakobus sendiri) mempunyai iman dan perbuatan.

Kata-kata ‘padaku ada perbuatan’ (ay 18a) tidak boleh diartikan seakan-akan ia hanya mempunyai perbuatan tetapi tidak mempunyai iman, karena ini adalah suatu keadaan yang tidak mungkin terjadi, dan juga ini bertentangan dengan ay 18b yang mengatakan ‘aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku’.

Dari kata-kata dalam ay 18b itu juga jelas bahwa orang ini bisa menunjukkan imannya!

b) Orang yang kedua hanya mempunyai iman / pengakuan. Orang ini tidak bisa menunjukkan imannya, karena memang tidak ada!

3) Yakobus menyamakan iman seperti itu dengan ‘imannya setan’ (ay 19)!

Ay 19: “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar”.

Kepercayaan terhadap adanya satu Allah adalah kepercayaan yang benar. Tetapi bagi setan, kepercayaannya akan adanya satu Allah itu sama sekali tidak menghasilkan hidup yang benar! (Catatan: kepercayaan itu hanya menyebabkan ia geme­tar! Ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang benar tentang Allah, kalau tidak disertai dengan penebusan, hanya mengha­silkan rasa takut!).

Jadi jelas bahwa orang yang mengaku beriman, tetapi tidak membuktikan imannya dengan perbuatan baik, tidak berbeda dengan setan!

Kesimpulan dari 3 hal di atas:

Kalau seseorang mengaku percaya, tetapi tidak ada perbuatan baik dalam hidupnya, maka ia sebetulnya bukan orang kristen! Perhatikan cara Yakobus menyebut orang itu! Ia tidak pernah menyebutnya sebagai ‘saudara’, tetapi ia menyebutnya ‘seorang’ (ay 14), atau ‘orang’ (ay 18), atau ‘manusia’ (ay 20).

Penerapan: Apakah ada perubahan hidup ke arah yang positif dalam diri saudara? Apakah saudara berusaha untuk bisa hidup lebih suci? Apakah saudara membenci dosa dan berusaha membuangnya dari hidup saudara?

John Owen: “I do not understand how a man can be a true believer unto whom sin is not the greatest burden, sorrow and trouble” (= Saya tidak mengerti bagaimana seseorang bisa merupakan orang kristen yang sejati, kalau bagi dia dosa bukanlah beban, kesedihan dan kesukaran yang terbesar).

III) Orang yang membuktikan iman dengan perbuatan baik.

1) Abraham (ay 21-24).

Ay 21-24: “(21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (22) Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. (23) Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’ (24) Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”.

a) Ay 21: “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?”.

Ini tidak boleh diartikan seakan-akan Abraham dibenarkan karena perbuatannya yaitu pada waktu ia mempersembahkan Ishak.

Alasannya:

1. Persembahan itu dikatakan merupakan bukti iman Abraham (Ibr 11:17-19).

Ibr 11:17-19 - “(17) Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, (18) walaupun kepadanya telah dikatakan: ‘Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.’ (19) Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali”.

Kata-kata ‘Karena iman’ pada awal Ibr 11:17, oleh KJV/RSV/NIV/NASB diterjemahkan ‘by faith’ (= oleh iman).

Jadi, text ini jelas menunjukkan bahwa imannya ada lebih dulu dan baru setelah itu ia mempersembahkan Ishak.

2. Abraham dibenarkan karena imannya (ay 23 bdk. Kej 15:6) dan ini terjadi lebih kurang 30 tahun sebelum ia mempersembahkan Ishak (Kej 22).

Ay 23: “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’”.

Kej 15:5-6 - “(5) Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firmanNya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (6) Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Jadi, arti ayat ini adalah: persembahan Abraham itu adalah perbuatan baik yang membuktikan iman Abraham / membenarkan pengakuan Abraham bahwa ia adalah orang beriman.

b) Ay 22: “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna”.

Artinya: iman / pengakuan saja tidaklah cukup. Pengakuan + perbuatan baik barulah sempurna, artinya: ini adalah iman yang sempurna / sungguh-sungguh.

Calvin: It is said to have been perfected by works, not because it received thence its own perfection, but because it was thus proved to be true (= Dikatakan bahwa iman disempurnakan oleh perbuatan-perbuatan, bukan karena iman itu menerima kesempurnaanya sendiri dari sana, tetapi karena dengan demikian iman itu dibuktikan sebagai benar).

c) Ay 23: “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’”.

Perhatikan kata-kata ‘genaplah nas yang mengatakan’. Artinya: dengan adanya persembahan Ishak itu kelihatanlah bahwa Kej 15:6 adalah benar.

d) Ay 24: “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”.

Kata-kata ‘manusia dibenarkan’, artinya adalah: ia dibenarkan pengakuannya, atau tidak dianggap munafik.

2) Rahab (ay 25).

Ay 25: “Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?”.

a) Ay 25 yang berbicara tentang Rahab ini, bukan merupakan contoh keselamatan karena perbuatan baik, tetapi keselamatan karena iman, yang dibuktikan dengan perbuatan baik.

Jamieson, Fausset & Brown: “Rahab’s act was such that it cannot be quoted to prove justification by works as such. She believed assuredly what her other countrymen disbelieved, and this in the face of every improbability that an unwarlike few would conquer well-armed numbers. In this belief she hid the spies at the risk of her life. Hence, Heb 11:31 names this as an example of faith, rather than of obedience” (= Tindakan Rahab adalah sedemikian rupa sehingga itu tidak bisa dikutip untuk membuktikan pembenaran oleh perbuatan baik saja. Ia percaya secara pasti apa yang orang-orang senegaranya yang lain tidak percaya, dan ini di hadapan setiap ketidak-mungkinan bahwa sedikit orang-orang yang tidak suka perang akan mengalahkan sejumlah besar orang-orang yang bersenjata lengkap. Dalam kepercayaan ini ia menyembunyikan mata-mata itu dengan resiko nyawanya. Karena itu, Ibr 11:31 menyebutkan ini sebagai contoh dari iman, dari pada contoh dari perbuatan baik).

Ibr 11:31 - Karena (Oleh) iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik”.

Catatan: Sama seperti dalam kasus Ibr 11:17 di atas, kata-kata ‘karena iman’ pada awal Ibr 11:31, oleh KJV/RSV/NIV/NASB diterjemahkan ‘by faith’ (= oleh iman).

b) Sekarang Yakobus mengambil orang yang sangat kontras dengan Abraham. Kalau Abraham adalah seorang laki-laki, maka Rahab adalah seorang perempuan. Kalau Abraham adalah nenek moyang bangsa Israel, maka Rahab adalah orang kafir. Kalau Abraham adalah orang yang terhormat, maka Rahab adalah seorang pelacur!

Mengapa Yakobus mengambil contoh orang seperti Rahab? Karena kalau contohnya hanya orang seperti Abraham maka mungkin orang akan berkata: ‘Itu kan Abraham, dia orang luar biasa. Saya tidak bisa seperti dia’. Supaya orang tidak bisa berkata seperti ini, Yakobus mengambil contoh Rahab. Rahab adalah orang kafir, dan terlebih lagi dia adalah seorang pelacur! Tetapi setelah bertobat, ia termasuk orang yang membuktikan imannya dengan perbuatan baik (bdk. Yos 2:1-7).

Calvin: It seems strange that he connected together those who were so unlike. ... Why did he prefer a harlot to all others? he designedly put together two persons so different in their character, in order more clearly to shew, that no one, whatever may have been his or her condition, nation, or class in society, has ever been counted righteous without good works. ... Whosoever, then, seeks to be counted righteous, though he may even be among the lowest, must yet shew that he is such by good works (= Kelihatannya aneh bahwa ia menghubungkan mereka yang begitu berbeda. ... Mengapa ia lebih memilih seorang pelacur dari pada semua orang lain? ia dengan terencana menggabungkan dua orang yang begitu berbeda dalam karakter mereka, untuk menunjukkan dengan lebih jelas, bahwa tidak seorangpun, apapun kondisi, bangsa, atau golongannya dalam masyarakat, pernah dianggap benar tanpa perbuatan baik. ... Maka, siapapun berusaha untuk dianggap benar, sekalipun ia ada di antara orang-orang yang paling rendah, tetap harus menunjukkan oleh perbuatan baik bahwa ia adalah orang seperti itu).

c) Memang perbuatan baik Rahab tidak sempurna, karena mengan­dung dusta / dosa. Tetapi harus diingat hal-hal ini:

1. Ia adalah orang kafir, yang sama sekali tidak mempunyai pengertian Firman Tuhan.

2. Ia adalah seorang pelacur.

3. Ia adalah seorang petobat baru, sehingga sukar diharapkan bisa melakukan perbuatan baik yang sempurna.

4. Perbuatan baiknya saat itu, dimana ia menyembunyikan mata-mata Israel terhadap tentara Yerikho, mempunyai resiko tinggi.

Jadi, sekalipun perbuatan baiknya mengandung dusta / dosa, itu tetap dianggap sebagai perbuatan baik yang membuktikan imannya!

Dengan adanya contoh Rahab ini terlihat dengan jelas, bahwa siapapun orang yang beriman itu, kalau ia memang betul-betul beriman, ia pasti melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai buah / bukti imannya.

Penutup.

William Hendriksen: “Good works have never saved anybody. Yet without them no one has a right to claim that he is a Christian” (= Perbuatan baik tidak pernah menyelamatkan siapapun. Tetapi tanpa perbuatan baik tidak seorangpun mempunyai hak untuk mengclaim bahwa ia adalah orang Kristen) - ‘Romans’, hal 114.

Juga ada semacam semboyan yang berbunyi sebagai berikut: “We are justified by faith alone, but not by faith that is alone” [= Kita dibenarkan oleh iman saja, tetapi bukan oleh iman yang sendirian (tanpa perbuatan baik)].

Apakah iman saudara sudah terbukti dengan adanya perbuatan-perbu­atan baik? Kalau sudah, puji Tuhan, saudara adalah orang kristen sejati. Teruslah berusaha untuk menyucikan diri saudara. Kalau belum, sadarilah bahwa saudara sebetulnya bukan orang kristen, dan saudara belum diselamatkan. Karena itu datanglah kepada Kristus dan bertobatlah!

-AMIN-

Bagi sdr yg telah mendapat berkat dari artikel ini..mohon kiranya dapat membantu menyebarkan Pada sdr2 kita yg lain, sehingga semakin banyak sdr kita yg juga bisa membaca artikel ini dan mendapat berkat. Tuhan memberkati sdr. Amin.

http://www.golgothaministry.org/artikel/art_pertentanganyakobuspaulus.htm




Rabu, 23 November 2011

Reformasi & Theologi Reformed

Reformasi & Theologi Reformed

Seberapa tahukah kalian mengenai perbedaan antara ajaran Luther dan Calvin? Apakah prinsip-prinsip dasar Theologi Reformasi yang dilakukan oleh para reformator? Apakah relevansi Theologi Reformasi pada masa sekarang ini? Pertanyaan-pertanyaan tadi adalah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang kadang tersembul di benak kita atau ditanyakan oleh orang-orang lain yang ingin tahu lebih banyak tentang Reformed. Pertanyaan-pertanyaan mendasar dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut ketika hendak dicari jawabannya. Buku berjudul Reformasi & Theologi Reformed ini berisi sebagian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul ketika menyelidiki Theologi Reformed.

Sejarah dan latar belakang reformasi diuraikan di dalam buku ini. Mulai dari filsafat yang mempengaruhi theologi Abad Pertengahan, latar belakang pemikiran Luther, kelemahan gereja Katolik Roma pada masa itu, pengaruh Agustinus dalam pemikiran reformasi, hingga pemakuan 95 tesis reformasi di pintu gerbang gereja Schloβkirche di Wittenberg, Jerman pada tanggal 31 Oktober 1517 oleh Martin Luther.

Martin Luther dan para reformator setelahnya seperti Calvin, Zwingli, dan Melanchthon pada dasarnya tidak ingin menyerang, merombak doktrin, dan memecahkan gereja, melainkan mempengaruhi gereja agar kembali setia kepada Allah. Mereka menolak tradisi yang telah berakar di gereja Katolik Roma seperti kekuasaan Paus adalah yang tertinggi, termasuk berhak meniadakan dosa, penjualan karcis penebusan dosa, ajaran Maria sebagai ratu sorga dan ibu Tuhan, dan lain-lain. Pengikut Kristus diharapkan untuk kembali pada pengajaran yang utuh, seimbang, dan sesuai dengan Alkitab, bukan filsafat atau pikiran manusia. Dalam praktiknya, Gerakan Reformasi diharapkan mampu merobohkan yang salah dan membangun kembali yang benar, serta ketat dalam menjalankan disiplin gereja. Adapun terdapat pula perbedaan pandangan antara Luther dan Calvin yaitu dalam doktrin Allah, Kristologi, doktrin dosa, dan doktrin gereja. Semuanya dijelaskan satu-persatu di dalam buku ini.

Pdt. Dr. Stephen Tong mengingatkan bahwa sikap positif mengoreksi diri terus-menerus mengakibatkan dampak sampingannya dalam sejarah gereja Reformed sehingga ada yang menjadi liberal atau terseret arus theologi modern. Tapi justru gereja yang liberal menjadi berkurang anggotanya. “Hal ini disebabkan dalam liberalisme tak ada lagi Injil yang murni dan iman kepercayaan yang akurat serta murni yang dapat dipelihara....” (hlm. 47). Maka dari itu hamba Tuhan yang telah melayani Tuhan selama lebih dari 50 tahun ini mendirikan Gerakan Reformed Injili supaya mempunyai dasar ajaran firman Tuhan yang mendalam dan ketat, selain itu juga aktif dalam mengabarkan Injil.

Adapun dijelaskan pula penentang dari Reformasi yaitu Kontra Reformasi dari Katolik Roma dan gerakan Reformasi Radikal dari orang-orang yang merasa kurang puas dengan para reformator. Dibentuklah kaum Jesuit oleh Loyola yang usahanya dalam mendidik seseorang untuk setia pada Katolik Roma dan keketatan pendidikannya patut diacungi jempol, tetapi menghalalkan segala cara dalam Kontra Reformasi. Sehingga lambat laun ditutuplah sekolah Jesuit tersebut.

Pandangan tradisi Reformed dan lima prinsip dasar dari doktrin keselamatan dan doktrin Allah yang dikenal dengan akronim TULIP dijelaskan dengan gamblang. Sebuah prinsip yang menyatakan perubahan status dari orang berdosa menjadi orang kudus oleh karena penebusan Kristus. TULIP terdiri dari:

1. Total Depravity (kerusakan total manusia yang berdosa)

2. Unconditional Election (pilihan Allah yang tanpa syarat)

3. Limited Atonement (penebusan Kristus hanya terbatas bagi umat pilihan)

4. Irresistible Grace (anugerah Roh Kudus yang tidak dapat ditolak)

5. Perseverance of the Saints (ketekunan orang kudus sampai pada akhirnya)

Dijelaskan pula pengaruh Theologi Reformed di dalam penghargaan terhadap hak manusia, sastra, budaya, dan musik. Teknologi produksi yang paling akurat adalah berasal dari negara-negara yang dipengaruhi oleh Theologi Protestan seperti Jerman, Swiss, Swedia, dan sebagainya. Adanya mandat budaya memungkinkan orang Kristen menjadi terang di segala bidang kehidupan, mulai dari polisi, hakim, profesor, guru, pedagang, dan lain-lainnya. Ini terlihat dari nilai kejujuran lebih dijunjung tinggi di negara-negara Barat daripada negara-negara agama lain maupun komunis. Pdt. Dr. Stephen Tong menasihatkan bahwa gereja yang baik haruslah membenahi doktrinnya, hidup menurut etika yang sesuai ajaran Alkitab, membenahi makna hidup dan pelayanan, memuliakan Tuhan di bidang-bidang yang berbeda, dan mendorong pekabaran Injil.

Buku ini merupakan rangkaian dari seri Theologi Reformed karya Pdt. Dr. Stephen Tong, pendiri Lembaga Reformed Injili Indonesia, seorang yang telah mempersembahkan hidupnya melayani Tuhan sejak 1957. Ia memberikan contoh nyata dari pengalamannya di buku ini untuk mempermudah pembaca memahami isi yang disampaikan. Buku ini mudah dipahami dan bukanlah buku yang penuh dengan terminologi khusus serta filsafat yang berat. Diharapkan buku ini dapat menjadi pengantar untuk mengenal Reformed dan wawasan Theologi Reformed. Pembaca awam yang telah lama menjadi orang Kristen namun masih merasa belum banyak mengetahui tentang Theologi Reformed maupun orang yang baru mengenal Theologi Reformed dianjurkan untuk membacanya.

http://www.buletinpillar.org/resensi/reformasi-theologi-reformed

komentar pribadi sya :

sebagai orang Protestan (reformasi) , kita jangan taunya ikut-ikut saja !

1 Ptr 3:15 menjelaskan bahwa Iman Kristen adalah iman yang bisa dipertanggung jawabkan (bukan iman fanatik buta)

sebagai orang Protestan, setidaknya kita harus mempelajari mengapa kita memeluk Protestan ? mengapa tidak yang lain ? apa sih Protestan itu ? kq bisa muncul ? munculnya karena apa ? tujuanya para reformasi itu apa sih ?

lalu Theology itu apa ? Theologi merupakan kristalisasi dan sistematisasi dari pengenalan akan Alkitab.

apa itu Reformed dan mengapa harus Reformed ?

buku ini menjelaskan sejarah yang penting tentang reformasi dan juga berisi sebagian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul ketika menyelidiki Theologi Reformed.

karenanya buku ini bisa dikatogorikan sebagai salah satu buku yang dianjurkan dimiliki orang Kristen Protestan terlebih Protestan Reformed.

GBU !

-SDG-

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------tertarik ??

untuk informasi lebih lanjut :

http://www.momentum.or.id/index.php/mod_detil/10400164/id/

Ni Covernya :)

Ini yang menulisnya, beliau adalah Pdt. Stephen Tong, B.Th., D.L.C.E., D.D.

Ada apa di balik kisah Yusuf ?

Alkitab memberikan kesaksian kepada kita bahwa ada 2 orang yang di katakan oleh orang bukan kaum pilihan bahwa : “ada roh Allah dalam dirinya” yaitu Daniel dan Yusuf.

-Daniel karena berada di kandang singa dan tidak di terkam singa sampai keesokan harinya.

-Yusuf karena berhasil menafsirkan mimpi si Firaun.

Kali ini saya hanya akan membahas Yusuf saja.

Kalau kita hendak mencari orang seperti Yusuf di Zaman sekarang ini tidak akan kita bisa temukan.

Yusuf dilahirkan sebagai anak kesayangan oleh Yakub (Bapaknya) melalui istri kesayanganya Rachel

Yang merupakan anak pertama dari Rachel yang merupakan Hasil cinta Yakub.

Karena merupakan anak kesayangan Yakub, Yusuf di iri oleh saudara”nya yang lain, sampai” hampir di bunuh oleh saudaranya namun akhirnya dia di jual kepada orang Ismael sebesar 20 Syikal perak

Yang kemudian di jual kembali ke Seorang Mesir (Potifar, pegawai istana Firaun, kepala Pengawal raja.)

Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaanya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.

Setelah di lihat oleh tuannya bahwa Yusuf di sertai Tuhan Sehingga selalu berhasil dalam setiap pekerjaanya, maka Yusuf di mendapat kasih tuannya dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf di berikannya kuasa atas segala miliknya kepada kuasa Yusuf. Sejak itu Tuhan memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat Tuhan ada atas segala miliknya.

Adapun Yusuf itu manis sikap dan elok parasnya. Selang beberapa waktu, Godaan datang dari istri tuanya yang mengajak tidur bersamanya.

Kejadia 39 ayat 8-9:

(8) Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, (9) bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"

Perkataan ini juga di katakan oleh Paulus bahwa kita berbuat sesuatu harus seperti di depan Tuhan Allah. ( jangan ada kamera baru baik”, jangan ada guru baru tidak nyontek)

Kalau seandainya Yusuf mau, maka keberuntungan palsu akan datang bertubi” :

Kalau kita pikir istri Potifar tentau saja tidak jelek “ banget kan > (main seks dengan cewek cantik dan gratis ) dan mendapat banyak kemudahan (kuasa & Harta)

Kalau menolak, kemungkinan dia akan di fitnah, akan di benci, akan di kerjain,dst (tidak habis”)

Dalam pertimbangan untung ruginya itu dia tetap tidak memperdulikan, dia tetap patuh, tetap taat kepada perintah Tuhan. Inilah yang kita sulit mencapainya.

Kita hanya bisa salut dan kagum denganya.

Saya rasa perkataan dari Yusuf ini dapat menjadi teladan bagi semua pemuda di segala zaman, baik yang zaman dahulu (sejarah) ataupun yang akan datang (future) ini adalah sebuah teladan yang sangat berharga.

*Ini adalah Penguasaan diri yang sangat hebat.

Banyak orang menyesal ketika di hukum bukan sadar atas kesalahanya

Sama seperti siswa yang tidak belajar di saat ulangan. Dia bukan takut ujiannya, tetapi takutnya nilainya jelek.

**Bertingkah laku ketaatan yang sejati bukan ketaatan di bawah ancaman hukuman.

Penguasaan diri banyak sekali contohnya:

Tetapi kita ambil contoh dari seks saja.

Karena sesuai dengan waktu kita. Seperti Orang dewasa mengatakan 3TA yaitu :

-Tahta

-Harta

-Wanita

Yang menurut mereka seorang dikatakan sukses kalau sudah bisa memenuhi 3 hal ini.

Seorang pendeta yang dari PRC mengatakan bahwa di Beijing ada perkataan begini:

Laki” berubah menjadi nakal setelah mempunyai uang sedangkan perempuan nakal dahulu baru berubah menjadi punya uang.

Inilah sekilas yang berkaitan dengan seks.

Kalau kita membaca dengan teliti sampai akhir cerita Yusuf, kita akan mengerti bahwa

Kej 41: 37-57 ( Khususnya ayat 38,39,40 )

(38) Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?"

(39) Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.

(40) Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu."

Terjemahan lain mengatakan:

(38) Lalu raja berkata kepada mereka, "Tak mungkin kita mendapatkan orang lain yang lebih cocok daripada Yusuf, sebab ia dipimpin oleh Roh Allah."

(39) Maka raja berkata kepada Yusuf, "Allah telah memberitahukan semua ini kepadamu, jadi jelaslah bahwa engkau lebih cerdas dan bijaksana dari siapa pun juga.

(40) Engkau akan kuangkat menjadi gubernur, dan seluruh rakyatku akan mentaati perintahmu. Hanya aku sajalah yang lebih berkuasa daripadamu."

Dari sini Kita bisa melihat dengan jelas :

"Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?"

Firaun ini telah melihat kebenaran , tetapi hanya melihat tidak mengembangkanya.

Sehingga kematianya membawa serta seluruh kebudayaan Mesir bersamanya .

Harap saudara memikirkan hal ini baik” untuk mengetahui apa makna sebenarnya dari Firman ini.

Akhir kata Soli Deo Gloria !

Penjelasan khusus:

*[ Sepertinya Sun Yat Sen (bapak pendiri dari Republik China yang telah menggulingkan sistem Kerajaan di China selama +/-5000 tahun )

beliau adalah seorang pemimpin beragama Kristen yang pernah berkata:

"-seorang yang bijak sadar sebelum berbuat

-seorang yang biasa sadar sesudah berbuat

-seorang yang bodoh tidak pernah sadar sebelum / sesudah" berbuat

kita bisa melihat bahwa Yusuf selain disertai dengan Roh Allah juga mempunyai pikiran seorang Gantleman.

"jun zi yu yu yi, xiao ren yu yu li; 君子喻於義,小人喻於利;seorang gentleman, meski merugi tetap memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Tapi small man, hanya mengutamakan profit. zhe shi jie li hai zhe gai shi fei; 這世界利害遮蓋是非"

Ini adalah perkataan dari Kong-Zi (Chinese Philosophy) ]

**[ Di dalam hal ini, kita seharusnya lebih mempunyai kesadaran dari pada orang-orang non Kristen, Yesus berkata, “Jika kebenaranmu tak melebihi kebenaran orang Farisi, engkau tak dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Alkitab mengajarkan kepada kita agar kita melakukan sesuatu seperti di depan Allah.

Hal serupa juga pernah di tulis +/-500 tahun hanya saja “Allah” diganti dengan “Langit” {Tian} .

Kita harus peka dalam hal ini, apakah yang Konghucu bilang (katakan) itu adalah wahyu umum ? atau wahyu khusus ? bukan keduanya (dasar: wahyu umum tidak mungkin bertentangan dengan wahyu khusus.

Nb :doktrin soal wahyu umum dan wahyu khusus hanya ada di doktrin Reformed melalui pengertian “mandat cultural” (yang dilaksanakan sebagai tugas khusus dengan pengertiaan yang dalam bedasarkan prinsip-prinsip Alkitab yang tidak bisa ditawarkan )

“mandat cultural” bersifat sekunder tapi bukan berarti tidak penting .

“Terang natural itu tidak cukup, manusia hidup hanya bedasarkan hasil pikiran dan kebudayaan manusia tidak cukup. manusia butuh Terang Supranatural (Firman) ”

- Westminster Confession ) , melainkan reaksi manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah di dalam dunia yang berdosa, kalau gitu kq mirip ya ? banyak filsafat khususnya Chinese philosophy yang mirip dengan ayat di Alkitab, tetapi juga ada yang berbeda yang jelas

contohnya Kong-Zi berkata : “Gantleman hidup tidak mencari makan, malainkan kebenaran.” Bandingkan dengan Matius 4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Disini kita bisa melihat adanya perbedaan secara Qualitative difference antara Pencipta dan yang dicipta. Sebagai makhluk yang dicipta, kita harus sadar bahwa : kita dicipta, kita terbatas, dan kita tercemar. ]

Referensi, penjelasan dengan tanda '*' :

- Filsafat Asia (Chinese philosophy) by Pdt. DR. Stephen Tong

- Kotbah umum Pdt. DR. Stephen Tong

- buku sejarah

Kedaulatan Allah Vs Kebebasan manusia

Dari tema diatas kita melihat seakan-akan ada pertentangan antara Kedaulatan Allah dan Kebebasan manusia, namun benarkah demikian yg dinyatakan oleh Alkitab??

Apakah Alkitab mendukung Kedaulatan Allah saja dan mengabaikan kebebasan manusia??

Apakah Alkitab mendukung Kebebasan manusia saja dan mengabaikan Kedaulatan Allah??

Atau Alkitab mendukung keduanya??

J.J.Paker di dalam bukunya yang berjudul Evangelism & Souvereignity of God (terbitan Momentum) memberikan penjelasan awal sbb:

Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia merupakan sesuatu yang tampak berkontradiksi namun kedua-duanya sama-sama masuk akal / logis dan sama-sama penting. Dan di dalam bukunya itu J.J. Paker menggunakan istilah Antimoni (di dalam buku tsb dijelaskan arti sebenarnya dari kata Antimoni).

Antimoni adalah 2 kebenaran yang tampaknya tidak bersesuaian. Antimony muncul ketika ada 2 kebenaran yang keduanya tak dapat disangkal tetapi tampak tidak dapat disesuaikan. Keduanya sama-sama ditopang oleh alasan yang kuat dan bukti yang jelas dan kuat sehingga layak untuk dipercaya, tetapi bagaimana mencocokan keduanya masih merupakan misteri.

Anda melihat bahwa keduanya benar tetapi anda tidak mengerti bagaimana keduanya dapat sama-sama benar. Salah satu contoh antimony yang dihadapi fisika modern dalam studi mengenai cahaya. Ada bukti kuat bahwa cahaya terdiri dari gelombang, tapi bukti lain yang sama kuatnya menunjukkan bahwa cahaya terdiri dari partikel. Sulit dimengerti bagaimana cahaya dapat terdiri dari gelombang dan sekaligus partikel, tetapi buktinya ada sehingga tak satu pun dari kedua pandangan itu dapat dibuang atau dikurangi atau dijelaskan dari sudut pandang lain.

Kedua pandangan yang tampak tidak dapat berdampingan itu harus sama-sama diterima sebagai kebenaran. Memang hal ini sulit diterima akal, tetapi harus diterima jika kita ingin setia pada fakta.

Kita mengetahui bahwa permasalahan ini adalah permasalahan yang tidak sederhana.

Namun saya akan mencoba untuk menjelaskan permasalahan ini, walaupun mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada.

Saya akan membagi penjelasan saya di dalam 2 bagian yaitu:

1.Kebebasan manusia setelah jatuh di dalam dosa.

Setelah manusia jatuh di dalam dosa maka seluruh aspek dari manusia mengalami pergeseran (rusak). Sehingga manusia tidak dapat lagi mengenali / mencari Kebenaran yang sesungguhnya atas usahanya sendiri(mengenai hal ini dapat dipelajari di dalam ajaran TULIP yaitu Total Depravity).

Dan karena manusia telah jatuh di dalam dosa maka hubungan antara Allah dan manusia pun rusak. Sehingga manusia mengalami “keterpisahan” dari Allah.

Sedangkan kita telah mengetahui bahwa kehidupan manusia haruslah mengarahkan dirinnya kepada Allah atau berpusat kepada Allah, tanpa itu maka manusia hanya berada di dalam kegelapan(berpusat pada diri sendiri atau pada ciptaan lainnya).

Mengenai hal ini anda dpt baca di artikel berikut:

allah-pencipta-dosa-vt2925.html

jika kita telah memahami hal ini maka dengan sendirinya kita mengetahui bahwa tanpa Anugerah dari Allah maka manusia tidak akan pernah bisa kembali kepada Kebenaran yang sesungguhnya. Artinya semenjak manusia jatuh di dalam dosa maka manusia tidak lagi memiliki kebebasan yang sesungguhnya melainkan sudah berada di dalam kuasa kegelapan. Atau dengan kata lain manusia sudah tidak dapat lagi “memiliki kebebasan untuk memilih” karena semenjak manusia jatuh di dalam dosa, manusia mengalami keterpisahan dengan Allah dan di dalam manusia tidak ada terang Allah sehingga apa yang dilakukan manusia tidak lagi sesuai dgn kehendakNya. Dan apa yang dipilih manusia tidak berpusat lagi kepada Allah. Untuk memahami hal ini saya akan berikan sebuah contoh (namun perlu di ingat contoh ini mungkin tidak dapat merepresentasikan segala sesuatunya).

Contoh:

Jika seseorang memiliki kebebasan untuk memilih, apakah ia ingin merokok /narkoba atau tidak? Sebelum ia memilih ,ia bebas untuk memilih, namun pada saat ia memilih untuk merokok/narkoba maka di kemudian hari ia tidak memiliki kebebasan lagi untuk memilih karena pada saat ia memilih untuk merokok/narkoba maka ia akan kecanduan sehingga ia sudah terbelenggu dan sudah tidak memiliki kebebasan lagi untuk memilih. Ini saya sebut sebuah kebebasan yang disalah gunakan sehingga pada akhirnya ia tidak memiliki kebebasan lagi (walaupun mungkin org tsb merasa bebas untuk memilih namun sebenarnya tidak, ia sudah terbelenggu).

Demikian juga halnya dgn dosa. Adam diberi “Kebebasan” oleh Allah untuk memilih (taat atau tidak), namun pilihan Adam memiliki konsekuensi yang akan diterimanya.

Dan pada saat Adam memilih untuk tidak taat maka pada saat itu adam sudah tidak memiliki lagi kebebasan untuk memilih karena adam telah dikuasai oleh dosa (terbelenggu). Dan semua manusia mengalami ini yaitu terbelenggu oleh dosa karena dosa asal.

Dan hal ini jelas dinyatakan oleh Alkitab sbb:

Roma 7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

Yakobus 1 :13- 14

13 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.

14 Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Yakobus 1 : 17

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Yakobus 3:14-15

14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!

15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan

dan hal ini dikonformasi oleh perkataan Yesus sendiri.

Yoh 8 :41-44

41 Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah."

42 Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

43 Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.

44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta..

Jadi penjelasan saya diatas sesuai dengan prinsip Alkitab yaitu sesuatu yang baik datangnya dari Allah dan yang jahat berasal dari diri kita sendiri atau dari setan.(dan prinsip ini juga dipegang di dalam ajaran Reformed ).

Lalu bagaimana dengan ayat2 yg “seakan2 menyatakan bahwa Allah-lah yg menetapkan kejahatan”??

Namun sebelum saya membahas masalah ini, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu mengenai keselamatan dan penghukuman kekal.

Kita telah mengetahui bahwa semua manusia telah berdosa dan Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa upah Dosa adalah maut. Oleh karena itu kita semua sudah selayaknya di hukum(saya garis bawahi disini bahwa kita semua sudah selayaknya di hukum karena kita semua telah berdosa.).

Namun karena Kasih-Nya maka Allah memberikan Anugerah Keselamatan kepada umat Pilihan-Nya. Dan Allah memberikan iman kepada umat pilihan-Nya sehingga umat pilihan-Nya dapat beriman kepada Yesus Kristus dan menerima keselamatan.

Kita dapat melihat dengan jelas, bahwa manusia beriman sebab

anugerah Allah, dan mereka yang tidak percaya Yesus tidak akan dihukum karena tidak

memiliki iman, melainkan akan dihukum karena perbuatannya yang jahat. Keselamatan

berkaitan dengan iman, sedangkan hukuman berkaitan dengan perbuatan. Itulah aksioma

Alkitab yang selaras dari awal sampai akhir.

DISINI ada letak kekurangsempurnaannya, "mereka yang tidak percaya Yesus tidak akan dihukum karena tidak

memiliki iman, " Apakah dosa yang terbesar ? yaitu menghujat Roh Kudus . Menghujat Roh Kudus artinya sampai kita mati yaitu kita tetap menolak untuk percaya kepada Tuhan yang Benar yaitu Tuhan Yesus Kristus, karena itu tidak percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya sampai hari kematiaan, pasti akan masuk nereka .

Dengan pemahaman konsep diatas, saya akan menjelaskan hubungan antara Kedaulatan Allah, Kebebasan manusia, Anugerah Allah dan dosa.

Semenjak manusia jatuh di dalam dosa ,manusia sudah “tidak memiliki kebebasan lagi” (walaupun secara lahiriah manusia terlihat spt memiliki kebebasan) namun sebenarnya manusia telah terbelenggu oleh kuasa dosa, sehingga apa yang dilakukannya berpusat pada diri sendiri dan mengikuti keinginan daging. Dan jika manusia berbuat kebaikan hal itu semata hanya karena Anugerah Allah saja. Artinya Anugerah Allah(Anugerah umum) yang menahan manusia agar manusia tidak semakin bobrok. Dengan demikian jika Allah tidak memberikan Anugerahnya kepada manusia maka manusia hanya dapat melakukan sesuatu yg jahat.

Untuk memahami hal ini saya akan berikan satu contoh:

Saya adalah orang berdosa, misalkan saya selalu memiliki keinginan daging yaitu mencuri. Dan kuasa dosa telah membelenggu saya sehingga saya selalu ingin mencuri.

Dan hanya karena Anugerah Allah maka saya dapat menahan untuk tidak mencuri. Sebaliknya jika Allah tidak memberikan AnugerahNya kepada saya maka saya tidak dapat menahan untuk tidak mencuri(karena saya akan selalu mengikuti/melakukan yang jahat.) dan semuanya ini dapat terjadi atas “seizin” Allah yang telah “ditetapkan” di dalam rencanaNya yang kekal.. atau dengan kata lain jika Allah tidak mengizinkan maka hal tsb tidak akan mungkin terjadi. Sehingga segala sesuatunya tetap berada di dalam kedaulatan Allah.

Sekarang kita lihat ayat2 yang menyatakan “seakan-akan Allah yang menetapkan kejahatan” yaitu:

Kel 4 :21

Firman TUHAN kepada Musa: "Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

Dari ayat diatas terlihat seakan-akan Allah telah”menetapkan suatu kejahatan dengan cara mengeraskan hati Firaun” sehingga seakan-akan “kejahatan berasal dari Allah”.

Namun kita harus berhati-hati di dalam memahami ayat diatas, karena jika tidak maka kita akan masuk ke dalam pemahaman dimana “Allah adalah Pencipta dosa”.

Dari penjelasan-penjelasan saya sebelumnya , kita telah mengetahui bahwa semua manusia telah berdosa termasuk Firaun. Dan kita juga mengetahui bahwa jika Allah tidak memberikan AnugerahNya maka manusia hanya dapat melakukan apa yang jahat. Maka saya memahami ayat diatas sbb:

Pada saat Allah”menetapkan” untuk mengeraskan hati Firaun, maka hal tersebut sama dengan Allah tidak memberikan AnugerahNya kepada Firaun untuk menahan “hatinya yang keras” sehingga terjadilah hal tsb.

Dan dalam hal ini pun menurut saya ,kita tidak boleh mengatakan bahwa karena Allah tidak memberikan “AnugerahNya” kepada Firaun maka Allah adalah “penyebab kejahatan tsb” atau ”kejahatan tsb berasal dari Allah”.

Dan satu hal yang perlu kita pahami bahwa Anugerah Allah adalah hak Allah semata(Ia berhak memberikan AnugerahNya kepada siapa yang Ia hendak memberikan AnugerahNya dan tidak memberikan AnugerahNya kepada siapa Ia tidak hendak memberikannya).

Kita tidak dapat mengatakan karena Allah tidak memberikan AnugerahNya kepada saya maka saya melakukan dosa, seperti halnya keselamatan.

Jadi orang yg akan masuk ke dalam penghukuman kekal tidak dapat mengatakan karena Allah tidak mengAnugerahkan keselamatan kepada saya maka saya harus masuk ke dalam penghukuman kekal.

Tetapi sebaliknya kita harus mengerti bahwa orang yg akan masuk ke dalam penghukuman kekal adalah karena dosa yang diperbuatnya.

Demikian pula pada saat kita melakukan dosa, itu karena kita diseret untuk mengikuti keinginan daging kita (berpusat pada diri sendiri).

Demikian juga dengan ayat2 lainnya yang menyatakan seakan-akan Allah-lah pencipta dosa. Kita dapat memahaminya dengan konsep pemikiran spt diatas. Mungkin penjelasan saya ini tidak dapat menyelesaikan semua persoalan yang ada, namun di topic ini saya mencoba menjelaskan dari salah satu sudut pandang dimana “Allah bukan-lah Pencipta dosa”.

Dan segala sesuatu yang terjadi tetap berada di dalam Kedaulatan Allah.

Berikut ini adalah penjelasan dari Bapa Gereja Augustinus dan Tokoh Reformasi John Calvin:

Dosa masuk karena izin Allah yang effektif, seturut istilah Augustinus (permission efficax).

Allah mengizinkan dosa, namun manusia yang harus dipersalahkan, bukan Allah. Tetapi Allah secara effektif mengizinkan dosa.

Calvin memaparkan hal berikut :” manusia menghendaki suatu kehendak yang jahat, Allah menghendaki suatu kehendak yang baik.”

“kejahatan yang berlawanan dengan kehendak Allah, tidak dilakukan tanpa “seizin” dari Allah, karena tanpa “seizin” Allah, hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi.”

Note:

Saya pribadi lebih tertarik menggunakan istilah dari Augustinus yaitu “permission efficax” dari pada kata “menetapkan”, namun bagi saya juga tidak masalah jika menggunakan kata “menetapkan” selama pengertiannya “mengizinkan secara effektif”.

Karena kata “menetapkan” memiliki konotasi yang negative yang “seakan-akan kejahatan berasal dari Allah”. Untuk itu kita harus memahami terlebih dahulu maksud dari kata tsb agar tidak terjadi salah pengertian yang menyebabkan kita berpikir bahwa Allah-lah Pencipta dosa.

http://www.sarapanpagi.org/kedaulatan-allah-vs-kebebasan-manusia-vt2933.html--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Catatan penting : kata "menetapkan" selama pengertiaanya "mengizinkan secara effektif" ini sesuai dengan jawaban Pdt Dr Stephen Tong waktu saya tanya kepada beliau. (khususnya untuk buku C Van Til pengantar Theologi Sistematik hal 4 merencanakan / (menetapkan) ) Soal hal ini Pdt Tong mengeluarkan 2 versi yaitu "mengizinkan secara effektif" (oleh Augustinus) / "membiarkan" (buku Ujian, pencobaan, dan kemenangan) pengertiannya sama..tetapi saya sendiri lebih suka dengan kata " membiarkan ".

Soal hal ini jika saudara ingin mengetahui lebih lanjut bisa membaca "REFORMASI DAN THEOLOGI REFORMED" & "UJIAN, PENCOBAAN, DAN KEMENANGAN" & Tanya jawab, hal ini akan sangat jelas.

berikut sedikit kutipannya :

Di dalam bukunya pak Tong "Hati yang Terbakar 5"

Reformasi dan Theologi Reformed

hal 155-156

pak Tong dengan jelas menolak menggunakan kata "menjadikan"

hal ini dimulai waktu reformasi, pada saat itu orang Katholik (kontra-reformasi) menyerang org" reformasi dengan kalimat ini :

"Ajaran reformasi yang menekankan kepada kedaulatan Tuhan akan menjadikan Tuhan Allah sebagai pencipta Iblis."

dijawab oleh Melanchthon dalam Augsburg Confession dengan mengkutip perkataan Tuhan Yesus dalam Yoh 8:44

"Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. "

kesimpulannya reformasi tidak mengajarkan bahwa dosa berasal dari rencana Allah, melainkan dari Iblis sendiri .

(termasuk bukan Allah menetapkan dosa, melainkan mengetahui dan mengizinkan , spt yg sudah sya kutip di atas )

-------------------

" Allah sudah tahu sebelumnya, maka sebelum Adam diciptakan, Allah sudah sediakan Kristus untuk menyelamatkan. Jadi bukan saja Allah TIDAK merencanakan dosa, manusia juga diciptakan bukan untuk berdosa. "

(Dikutip dari "Hati yang Terbakar" 1A, HAL 316 PERT NO 6. PDT DR Stephen Tong)­­