Senin, 27 Februari 2012

Apakah Yesus Kristus mati untuk semua orang?

Untuk menjawab pertanyaan di atas terlebih dahulu saya paparkan perbedaan antara teologi Arminianisme dan teologi Reformed tentang penebusan Kristus.

Ajaran Arminianisme mengatakan Yesus mati untuk semua orang berdosa tetapi kematiaanNya hanyalah efektif bagi orang yang akan beriman kepadaNya. Sedangkan Ajaran Reformed adalah Yesus mati bukan untuk semua manusia berdosa melainkan hanya untuk orang2 yang sudah ditentukan selamat dari awalnya. Jadi inti dari ajaran Arminianisme adalah kematian Kristus MEMUNGKINKAN manusia berdosa untuk selamat (dengan syarat manusia itu beriman pada Kristus) sedangkan menurut Reformed, kematian Kristus MEMASTIKAN manusia berdosa (yang telah dipilih) untuk selamat. Manakah yaang benar?

Apakah maksud dan tujuan Allah sewaktu Dia mengirim anakNya ke dunia? Jika kita mengatakan pengorbanan Kristus hanyalah untuk memungkinkan manusia bisa selamat bukankah ini berarti ada saja kemungkinannya tidak ada satu manusia pun yang selamat. Karena bisa saja terjadi tidak ada satu manusia pun yang percaya kepada Kristus. Nah, jika tidak ada satu manusia yang percaya Kristus, bukankah ini berarti kematian Kristus adalah suatu kematian yang mubazir yaitu suatu kematian yang tidak punya efek apa2.

Allah tidak pernah mengerjakan sesuatu hanya demi menghasilkan suatu kemungkinan. Apa yang Dia kerjakan selalu berhasil dan kepastian ini adalah 100%. Sewaktu Allah mengirimkan AnakNya untuk mati di kayu salib, maksud dan tujuan Allah adalah rekonsiliasi manusia dengan Allah. Inilah inti dari ayat Roma 5: 10. Siapakah manusia berdosa yang mendapatkan rekonsiliasi ini? Mereka ini adalah umat pilihan!

Bukti2 penebusan Kristus hanyalah untuk umat pilihan:
1. Ayat2 alkitab mengatakan Kristus mati untuk domba2Nya (Yoh 10: 11, 15). Darah Kristus dicurahkan untuk gerejaNya (Kis 20: 28; Ef 5: 25). Nama Yesus itu berarti penyelamat umatNya dari dosa (Mat 1: 21).
2. Doa intercession Kristus bukanlah untuk dunia, melainkan hanya untuk orang2 pilihan saja (Yoh 17:9). Apabila Kristus mati untuk semua manusia di dunia mengapakah Yesus tidak mendoakan semua manusia? Bukankah hal ini sangat2 janggal?
3. Ayat2 alkitab mengatakan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia berdosa (Mat 18:11) bukan untuk memungkinkan keselamatan bagi manusia berdosa. Lihat juga 2 Kor 5:21, gal 1:4, Gal 3:13 dan Ef 1:7.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ini adil? Apakah Allah itu adil bila Dia hanya menyelamatkan orang2 yang telah Dia pilih? Untuk menjawab hal ini, ada suatu ilustrasi yang baik. Misalkan anda melihat 10 pengemis di trotoar lalu anda memberikan uang hanya kepada 1 pengemis. Apakah anda sudah bertindak tidak adil kepada 9 orang yang lainnya? Apakah anda punya kewajiban untuk memberikan uang kepada 10 orang pengemis itu? Jelas tidak bukan! Nah bukankah ini hal yang sama. Apakah Allah itu punya kewajiban untuk menyelamatkan semua orang berdosa? Kalau Allah tidak punya kewajiban, apakah kita bisa menuduh Allah bertindak tidak adil apabila Dia hanya menyelamatkan sebagian manusia? Perhatikan, Allah tidak pernah berlaku tidak adil kepada manusia berdosa! Manusia berdosa yang setiap hari menghujat Allah, melanggar perintah Allah, mereka itu justru mendapatkan keadilan apabila mereka mendapatkan penghukuman Allah. Sedangkan manusia lainnya yang diselamatkan, yang ditebus oleh Kristus, mereka itu mendapatkan anugerah (belas kasihan) dari Allah. Jadi, TIDAK ADA SATU MANUSIA PUN YANG MENDAPATKAN KETIDAKADILAN. Yang satu mendapat keadilan, yang lain mendapat belas kasihan. Tidak ada yang mendapat ketidak adilan!

Pertanyaan berikutnya, apakah Allah itu pilih kasih? Apakah saya itu pilih kasih apabila saya hanya memberikan uang kepada satu pengemis yang saya tidak kenal, tidak tahu dan tidak punya hubungan apa2 dengan saya? Jelas tidak, bukan! Nah, Allah pun tidak pilih kasih di dalam tindakan penyelamatannya karena Allah tidak pernah melihat kebaikan yang ada pada diri orang itu untuk diselamatkan. Semua manusia itu sama parah dosanya di hadapan Allah, semua manusia itu tidak punya kebaikan di mata Allah. Bukankah ini adalah inti dari ayat Roma 3:10-18. Tidak ada satu manusia yang mencari Allah, tidak ada satu manusia yang berbuat baik, tidak ada satu manusia yang mengerti. Tetapi, Allah telah menyelamatkan manusia dari berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari penjahat, pelacur, pengemis, konglomerat, anak pendeta, president dan raja. Allah tidak pernah pilih kasih.

Lalu dari manakah saya tahu bahwa saya adalah orang yang dipilih Allah? Suatu waktu pendeta Jonathan Edwards pernah ditanyakan hal yang sama oleh salah satu pendengar kotbahnya. Dia berkata kurang lebih demikian "Apabila anda belum beriman kepada Kristus, silakan anda tetap ke gereja untuk mendengar firman Allah, silakan anda untuk belajar mengenai kekristenan dan mencari tahu, suatu saat anda akan tahu sendiri apakah anda itu orang pilihan Allah".

Lalu bagaimanakah untuk orang2 yang sudah beriman kepada Kristus, dari manakah mereka tahu bahwa mereka adalah umat pilihan dan bukan suatu penipuan diri sendiri? Roh Kudus yang akan bersaksi sendiri kepada roh kita bahwa kita adalah anak Allah (Roma 8:16). Hal ini tidak berarti kita akan mendapatkan suatu pengalaman karismatik seperti berbahasa roh, atau karunia2 roh atau mendapat bisikan roh. Roh Kudus akan bersaksi sendiri kepada kita melalui firman Allah yang ada di alkitab. Dengan kata lain, secara praktisnya untuk mengetaui apakah kita ini umat pilihan mulailah dengan belajar alkitab, mengerti, merenungkan dan menjalankan. Mulailah dengan memahami doktrin justifikasi. Pikirkan, renungkan, suatu saat anda akan mendapatkan kepastian sendiri bahwa anda adalah umat pilihan.

Lalu apakah umat pilihan Allah itu bisa murtad? Tidak bisa karena Allah tidak pernah gagal. Sekali lagi keselamatan Allah adalah hal yang pasti dan bukan suatu kemungkinan. Manusia pilihan bisa jatuh ke dalam dosa besar, bisa melarikan diri dari Allah, tetapi suatu saat dia akan kembali kepada Allah. Tahukah, sebenarnya orang kristen yang tidak mau menerima doktrin pemilihan Allah itu punya suatu kerugian besar sekali di dalam hidupnya. Tidak ada yang lebih menghibur kita di saat2 kita susah selain daripada kenyataan bahwa kita ini adalah orang yang sudah mendapatkan belas kasihan Allah. Allah Bapa telah memilih kita sebelum dunia ini diciptakan, Yesus Kristus telah menebus kita demi keselamatan yang pasti dan Roh Kudus telah mengaplikasikan keselamatan itu melalui kelahiran baru sehingga kita bisa percaya kepada Kristus. Inilah adalah pekerjaan Allah Trinitas di dalam keselamatan.

by John Liem on Saturday, January 23, 2010 at 1:22pm ·

Teologia Reformed dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini

Teologia Reformed dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini


Teologia Reformed dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini

Penulis: Stephen Tong

Edisi: 026/III/2002

Isi:

PENDAHULUAN

Teologia Reformed merupakan sesuatu gerakan pengertian firman Tuhan yang berdasarkan hati nurani yang murni dan perasaan tanggung jawab yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Baik dari Martin Luther, Zwingli maupun Calvin mereka sebenarnya tidak ada maksud untuk memecah gereja, mengajarkan doktrin-doktrin yang baru atau memisahkan sebagian orang untuk memihak mereka, melainkan mereka benar-benar terdorong oleh suatu keadaan yang menyedihkan yaitu penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dalam gereja terhadap Alkitab dan doktrin-doktrin yang diajarkan dari jaman ke jaman.

Para Reformator adalah orang-orang jujur yang mau kembali setia kepada Allah dan mereka juga mau mempengaruhi gereja agar kembali setia kepada Allah. Mereka tidak menegakkan doktrin yang baru, melainkan menjelaskan doktrin yang dari kekal sampai kekal tidak berubah berdasarkan firman Tuhan yang diwahyukan dalam Kitab Suci. Khususnya Calvin, dalam "Institutes of the Christian Religion", mempunyai motivasi supaya manusia mengenal bahwa ajaran-ajaran Reformed adalah sesuai dengan ajaran-ajaran Kitab Suci. Boleh dikatakan ini adalah semacam kebangunan doktrinal yang bersangkut-paut dengan pengertian kepada interpretasi yang sah terhadap iman rasuli. Selain daripada pengaruh dalam hal doktrin yang benar, kekristenan juga membawa kita sebagai anak-anak Tuhan yang setia menjalankan tugas kehidupan di dalam dunia ini untuk mempunyai perasaan tanggung-jawab kultural dan sosial. Baik di dalam aliran Lutheran maupun Calvinis keduanya memiliki gagasan bagaimana orang Kristen hidup sebagai warga negara yang harus menjadi terang dunia dan dapat mempengaruhi kebudayaan serta membawa Kekristenan kepada Kristus yang sebenarnya adalah Raja di atas segala bidang dan aspek kebudayaan. Dengan demikian di mana teologi Reformed berada, daerah itu menerima pengaruh daripada kebenaran di dalam semua aspek kebudayaan.

Selain kembali kepada ajaran Kitab Suci dan hidup bertanggung jawab dan memberi pengaruh kebudayaan, Calvin juga mementingkan:

  1. Kedaulatan Allah di dalam seluruh dunia, khususnya di dalam Tubuh Kristus,
  2. hanya berdasarkan iman saja manusia dibenarkan.

Di dalam kedua hal di atas, boleh dikatakan bahwa kedua Reformator mendapat pengaruh dari Agustinus. Doktrin anugerah, doktrin keselamatan, doktrin Allah dan Injil yang murni ditegakkan kembali di dalam ajaran teologia Reformed sehingga kita tidak asing dengan istilah-istilah: sola scriptura, solagratia, sola fide, soli Deo gloria dan lain-lain. Kesemuanya adalah cetusan istilah yang begitu singkat namun tepat untuk melukiskan tekanan-tekanan dari gerakan Reformasi pada jaman itu yang berpengaruh ke segala jaman.

Itulah sebabnya sejak Reformasi, 470 tahun lebih y.l., kita melihat pengaruh Teologi Reformed sangat menonjol, seperti:

  1. Di mana pengajaran Reformed disebarkan di sana penghargaan terhadap kehormatan atau martabat manusia tidak terlepas dari gerakannya. Dan akibat dari penghargaan terhadap hak manusia ini maka di mana Calvinisme berada di sana boleh dikatakan menjadi tempat-tempat suburnya demokrasi di dalam pembentukan masyarakat dan politik mereka.
  2. Selain daripada itu aliran Lutheran dan Calvinis juga berpengaruh di bidang sastra, bahasa maupun musik. Ini merupakan suatu kontribusi yang penting. Sesudah beberapa ratus tahun kemudian, mandat kultural menjadi sesuatu aspek yang dipentingkan dan ditekankan oleh kaum Calvinis. Maka kita melihat semua negara Protestan mencapai kemajuan di dalam bidang industri, ilmiah lebih pesat daripada negara-negara yang tidak dipengaruhi oleh teologia Protestan. Sampai hari ini produksi-produksi yang paling akurat dan dapat diandalkan, misalnya, adalah berasal dari Jerman, Swedia dan sebagainya. Ini adalah pengaruh tidak langsung dari Reformasi. Hal yang sama juga terjadi di bidang musik. Jadi boleh dikatakan bahwa pengaruh ini telah meluas dan mencapai segala bidang, seperti yang dikatakan oleh Abraham Kuyper bahwa tidak ada satu inci pun di dalam bidang hidup manusia yang Kristus tidak ada takhtanya.

TEOLOGIA REFORMASI DI TENGAH-TENGAH KONTEKS BERGEREJA DI INDONESIA

Indonesia pernah dijajah oleh Belanda sehingga gereja Protestan merupakan gereja yang sangat luas dan berakar di Indonesia semasa penjajahan. Kami pikir gereja pada waktu itu merupakan gereja dari lapisan kelompok masyarakat yang agak tinggi sehingga Keristenan sebenarnya masih belum terlalu mendarat dan berakar dalam masyarakat umum. Menunggu sampai Gereja Pentakosta timbul di Indonesia, barulah Injil dikabarkan kepada khalayak yang lebih banyak. Khususnya melalui karunia-karunia seperti kesembuhan dan sebagainya. Hal ini menarik banyak orang miskin datang kepada Kekristenan sehingga Kekristenan menurun kepada lapisan yang lebih rendah.

Sedikit berbeda dengan penginjilan di daratan Tiongkok yang pada waktu itu lapisan masyarakat atasnya adalah penganut Konfusianisme, mereka bersikap antipati kepada Keristenan. Karena itu Kekristenan melalui OMF (dahulu CIM) hanya mencapai kebanyakan orang dari lapisan bawah atau rendah. Sedangkan di Indonesia karena gereja adalah milik lapisan yang agak atas atau tinggi, kecuali di beberapa tempat yang dahulunya merupakan daerah animisme dan kemudian ada sebagian yang menjadi daerah Kristen, maka kami tidak berpandangan bahwa orang-orang Kristen itu sudah menerima dengan jelas atau mempunyai posisi teologia Reformed dengan pengertian dan kepercayaan yang kuat di dalam kondisi sedemikian. Setelah gereja-gereja harus menghadapi kultur yang lebih bersifat pluralistik, kita melihat banyak gereja Protestan mempunyai gejala yang sangat tidak normal. Misalnya sebagian dari mereka tidak puas dengan pelayanan gereja masing-masing sehingga banyak yang terpengaruh dan menuju kepada gereja-gereja yang lebih bercorak emosional maupun gerakan pengalaman ke gerakan Karismatik atau Pentakostal dan sebagainya. Sementara banyak orang yang dulunya anggota Protestan masih menyimpan jimat-jimat dan berhala-berhala sebagai pengaruh kebudayaan lama yang tidak mereka lepaskan sesudah menamakan dirinya Kristen. Di sini terlihat bahwa gerakan Protestan sendiri masih berusaha di dalam suatu ketidak-stabilan teologia maupun iman kepercayaan dan pengalaman agama yang sesuai dengan teologia itu. Karenanya teologia Reformed perlu cepat-cepat ditanamkan dengan sebenar-benarnya dan sekokoh-kokohnya kepada jemaat yang ada bahkan hendaknya mulai berpengaruh dinamik kepada orang-orang yang belum mengenal teologia Reformed.

Pada dewasa ini sebagian dari pemimpin-pemimpin gereja Reformed sudah terlalu menyimpang dan jauh dari ajaran Reformed yang asli. Misalnya mereka tidak lagi memegang prinsip-prinsip dari jaman Reformasi, termasuk sola scriptura, sola gratia, sola fide dan sebagainya sehingga orang-orang gereja Protestan sudah dipengaruhi oleh teologia- teologia kontemporer yang menamakan dirinya tetap bertradisi Reformed tetapi yang sebenarnya sudah banyak menyimpang. Misalnya: aliran neo- ortodoks, baik dari Karl Barth maupun Emil Brunner semuanya menganggap diri beraliran Reformed. Mereka menganggap sendiri tetap membela teologia Reformed tetapi dari semangat dan prinsip dasarnya sudah jauh sekali dari Reformed yang asli. Kalau orang Kristen di Indonesia sudah banyak terpengaruh oleh mereka sehingga mereka menganggap diri juga termasuk orang-orang Reformed yang bersifat lebih dinamis karena merasa gereja harus menyesuaikan atau mempunyai semangat adaptasi di dalam setiap jaman dan sebagainya, maka kami kira ada bahaya yang harus cepat disadari oleh para pemimpin gereja maupun orang-orang Kristen di Indonesia pada jaman ini.

PERKEMBANGAN MANDAT KULTURAL DAN SOSIAL DALAM TRADISI REFORMASI

Teologia Reformed mempunyai satu ciri khas selain memberitakan Injil sebagai mandat utama juga ada mandat kultural yang harus kita kerjakan sehingga ini memungkinkan orang Kristen menjadi terang di dalam segala bidang kehidupan. Jikalau kita mau menyaksikan Kristus bukan hanya di dalam lingkup gereja, maka kita harus mempunyai semangat Kekristenan yang harus dibawa ke dalam bidang-bidang di mana kita diutus sebagai hakim, profesor, presiden, guru, dokter, pedagang dan sebagainya seharusnya membawa "tanda" dari iman Kristen dan semangat Kekristenan untuk mempengaruhi bidang-bidang di mana mereka berada. Di dalam hal ini terlihat bahwa negara-negara Barat menjunjung tinggi kejujuran lebih daripada negara-negara yang bukan dipengaruhi oleh Kekristenan. Sedangkan kejujuran ini menjadi suatu hal yang dianggap sangat merugikan diri di banyak kebudayaan Timur yang kuno, maka akhirnya kita melihat nilai kejujuran itu bukan saja tidak merugikan Barat karena negara-negara yang menjunjung tinggi kejujuran malah diberkati oleh Tuhan dengan kekuatan yang melebihi negara-negara agama lain maupun negara-negara komunis. Bagi Mao Ze Dong dan bagi Moscow, Watergate Affair merupakan suatu hal yang tidak perlu diperjuangkan, tetapi bagi orang-orang yang dipengaruhi oleh Protestantisme, hal itu merupakan suatu hal yang penting sekali bagi filsafat negara mereka. Ini adalah suatu contoh kasus untuk membuktikan pengaruh tidak langsung dari Kekristenan di Barat.

Selain daripada itu pengaruh pertemuan-pertemuan ilmiah menjadi makin pesat sekali bertumbuh di bawah pengaruh langsung maupun tak langsung Kekristenan di Barat sehingga negara-negara Protestan jauh lebih cepat maju dibanding dengan negara-negara Katholik maupun negara-negara beragama lainnya. Dan di bidang politik karena mereka meninggikan hak azasi manusia sebagai ciptaan Allah menurut peta dan teladan-Nya, ini mengakibatkan kesama-rataan dan penghormatan terhadap harkat manusia menjadi mungkin. Hal inilah yang menjadi dasar yang penting dari demokrasi di Barat. Meskipun banyak yang belum bisa menjalankan demokrasi ini, seperti politik Apartheid (diskriminasi) dan sebagainya, namun hal ini sebenarnya bertentangan dengan semangat Kekristenan.

Musik sebelum Johan Sebastian Bach dikatakan kebanyakan dimonopoli di Italia daerah Katholik, tetapi Jerman merupakan suatu negara yang mengalami Reformasi sehingga semacam semangat keketatan dan semangat ketelitian diwarisi di sana sampai sekarang ini. Dan Martin Luther adalah seorang petani yang mempunyai semangat keakuratan, ketelitian, kejujuran serta kesungguhan yang tak bisa dikompromikan. Hal seperti ini juga mengakibatkan timbulnya semacam pengalaman peitisme ditambah dengan semangat keakuratan yang telah berakar menyebabkan Johann Sebastian Bach dan lain-lainnya mencetuskan musik-musik yang sampai kini diakui amat tepat dengan presisi yang tinggi bahkan setelah diuji dan dianalisa dengan komputer. Baik George Frederick Handel maupun Bach adalah orang-orang Protestan. Semuanya ini merupakan permulaan kebangunan musik di daerah Jerman yang sebelumnya tidak pernah mencapai mutu setinggi ini di dalam dunia musik. Kedua orang Jerman ini telah dikagumi baik oleh Joseph Haydn, Mozart maupun Ludwig van Beethoven. Dan ketiga orang yang disebutkan belakangan ini adalan orang-orang Katholik, namun pengaruh dari Handel dan Bach sudah meresap mendalam kepada mereka.

MISI DAN PEKABARAN INJIL DALAM TRADISI REFORMASI

Sepanjang sejarah penginjilan terlihat Reformasilah yang mengembalikan Kekristenan kepada Injil yang paling murni dengan pemberitaan, kepercayaan dan dasar teologi yang tidak berkompromi. Skop Injil ini adalah bahwa hanya dengan mengenal Tuhan Yesus saja kita diselamatkan, hanya melalui iman saja kita diterima dan hanya melalui kedaulatan Tuhan kita boleh menjadi anak-anakNya serta hanya melalui Kristus saja kita ditebus. Maka Reformasi ini merupakan satu-satunya era yang begitu kompak dan murni untuk kembali kepada Injil yang asli sehingga teologi Reformed itu juga disebut teologia Injili. Dan dari permulaan gereja Lutheran disebut evangelical church sehingga nama "Injili" merupakan suatu istilah yang tak terpisahkan dari gereja-gereja Protestan. Misalnya pada waktu Injil disebarkan di Indonesia, gereja-gereja Protestan selalu tidak lupa mencantumkan istilah tersebut dalam nama lengkapnya. Contohnya: Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM), Gereja Masehi Injili Timor (GMIT), Gereja Masehi Injil Sangir-Talaud (GMIST) dan istilah-istilah ini adalah suatu indikasi yang menunjukkan bahwa Injil memang sangat penting. Dan di mana gereja Protestan berada di sana banyak orang kembali kepada Tuhan sehingga boleh dikatakan bahwa gereja Protestan mempunyai jiwa injili yang luar biasa. Namun fakta juga menunjukkan banyak gereja Reformed sesudah melalui suatu jangka waktu mereka lupa akan anugerah Tuhan atau menginterpretasikannya secara tidak benar. Kita mengambil contoh: karena segala sesuatu berdasarkan anugerah maka kalau berdosapun akan diampuni dan lain sebagainya. Ini mengakibatkan etika dan moral gereja-gereja Protestan itu tidak ditekankan. Dengan perkataan lain kesalah-pengertian ini telah mengakibatkan banyak orang Kristen hidup tak sesuai dengan ajaran kepercayaannya. Hal ini tentu sangat disesalkan dan menyedihkan.

Itulah sebabnya juga setelah 150 tahun dari gerakan Reformasi Martin Luther, gerakan Pietisme berusaha merubah kesulitan-kesulitan yang timbul. Di Indonesia banyak orang Kristen di daerah Protestan yang sangat tidak mementingkan hidup sesuai dengan panggilan sebagai saksi Kristus di dalam dunia ini. Salah satu sebab lainnya adalah karena di dalam gerakan Reformed, Protestan sangat mementingkan penanaman dan penyebaran gereja, maka banyak yang menjadi anggota gereja tanpa mempunyai pengalaman sendiri bergumul untuk bertobat, menerima Kristus secara pribadi dan lain sebagainya. Karena di dalam gereja Protestan umumnya orang mempercayai akan perjanjian keluarga sehingga seisi keluarga menjadi orang Kristen, maka amat mungkin sebagian dari anak- anak yang dibaptiskan itu belum atau tidak mengalami pertobatan pribadi. Dapat dikatakan inilah letak titik kelemahan jiwa atau semangat penginjilan dalam gereja-gereja bertradisi Reformed.

ANTARA PROTESTANTISME DAN KAPITALISME

Bagi kami, Kapitalisme adalah semacam hasil dari keserakahan manusia yang egosentris dan usaha mendapatkan uang melalui cara-cara yang tidak adil di dalam masyarakat. Maka menurut Max Webber, hal sedemikian ini makin menonjol sesudah Protestantisme timbul. Tetapi kita harus mengetahui dan memisahkan hal ini dengan jelas. Sebelum terjadi Reformasi, Kapitalisme sudah ada. Kapitalisme merupakan semacam gejala masyarakat yang konsisten semenjak permulaan sejarah sampai akhir jaman. Tetapi mengapakah kapitalisme dianggap menonjol sesudah Reformasi timbul, khususnya Calvinisme? Ini adalah karena ajaran penatalayanan (stewardship) yaitu manusia adalah juru kunci di hadapan Allah yang harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu termasuk kesehatan, waktu, uang, bakat dan seluruh karunia yang diberikan-Nya. Ajaran ini menyebabkan semua orang Kristen harus baik- baik memakai waktunya untuk bekerja. Uang yang mereka dapatkan tidak boleh dihamburkan untuk berjudi, bermabuk-mabukan, berzinah dan sebagainya sehingga dengan penghematan sedemikian mereka justru menyimpan uang lebih banyak lagi. Uang yang banyak ini ditambah dengan rasa tanggungjawab terhadap Tuhan mengakibatkan mereka tidak secara sembarangan mempergunakannya. Maka mereka menanam modal dan bekerja lagi sampai mendapatkan uang (kapital) yang lebih besar lagi. Jadi kita tidak bisa tidak mengakui bahwa karena konsep bekerja keras, penghematan dan rasa tanggungjawab kepada Tuhan telah mengakibatkan dimana Protestantisme sejati berada di sana pasti ada kekayaan yang lebih besar dibandingkan masyarakat yang bukan Protestan.

Sebagai contoh kita melihat bahwa masyarakat Bali memakai uang yang banyak hasil kerja mereka untuk upacara pemakaman dan sebagainya, sehingga bagaimanapun juga mereka tidak akan menjadi terlalu kaya. Ini merupakan kenyataan bagaimana agama mempengaruhi hidup perekonomian manusia.

Tetapi karena sesudah negara-negara kapitalis menjadi kaya, lalu mereka berusaha meminjamkan uang kepada negara-negara miskin, maka secara tidak langsung ini menimbulkan penindasan antara manusia dengan manusia melalui penerimaan suku bunga dan sebagainya. Semuanya ini merupakan suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Namun sekalipun demikian, kita harus membedakan antara Kapitalisme dengan prinsip Kekristenan. Banyak negara meskipun mayoritas penduduknya Kristen tetapi tidak menjalankan prinsip Kekristenan karena pemerintahan di sana dipegang oleh orang-orang yang tidak setia kepada Kekristenan yang sejati.

MEMPERTAHANKAN TRADISI REFORMASI DALAM KONTEKS GEREJA KONTEMPORER MASA KINI

Kita harus membagi teologia dan aplikasinya secara jelas. Teologia berarti pengertian manusia secara ilmiah akan Allah, sedangkan aplikasinya yaitu bagaimana menyatakan iman kita dan fungsi iman di dalam hidup sehari-hari. Teologia Reformed mengajarkan tentang Allah Tritunggal, Kristus adalah Mediator satu-satunya, Roh Kudus adalah diri-Nya Allah, dan Alkitab adalah firman Tuhan yang diwahyukan serta gereja adalah orang-orang Kristen yang ditebus oleh Tuhan, juga melalui pertobatan dan diperanakkan pula manusia menjadi anak-anak Allah dan lain sebagainya. Kesemuanya adalah ajaran yang bukan saja harus dipertahankan, melainkan tidak boleh berubah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Dan ini dimasukkan ke dalam kategori iman kepercayaan yang bersifat mutlak dan melampaui segala jaman dan daerah. Kita harus mempertahankan, memperjuangkan dan memperdebatkan hal ini dalam keadaan bagaimanapun demi menjaga kemurnian kepercayaan maupun substansi dari Kekristenan itu sendiri.

Sedangkan di dalam masyarakat orang Kristen harus menjadi terang atau cahaya kesaksian melalui pengamalan akan sifat kasih, keadilan dan kesucian Allah dalam hidup kita. Hal ini merupakan sesuatu yang harus kita pelajari yakni bagaimana memancarkan kemuliaan Allah di dalam setiap jaman yang berbeda. Di samping itu harus diketahui bagaimana mempertahankan hidup Kekristenan dan bahkan bisa mempengaruhi orang lain melalui sifat-sifat ilahi yang bersangkut-paut dengan etika serta penerapannya di dalam masyarakat yang sangat pluralistik.

Dalam katekismus Heidelberg dikatakan bahwa gereja yang benar dan sejati harus mengajarkan kebenaran firman Tuhan dengan benar dan ketat, lalu menjalankan sakramen dengan benar serta melaksanakan disiplin gereja dengan benar pula. Selain itu gereja harus memberitakan Injil demi menjamin kelangsungan dan kesehatan pertumbuhan gereja secara konsisten.

Apa yang seharusnya gereja bina pada masa kini?

Gereja yang baik, pertama, harus membenahi doktrin-doktrin kepercayaannya sehingga berakar dengan mengetahui siapa, apa dan mengapa kita percaya. Kedua, pengajaran tentang hidup bertanggung jawab kepada Allah menurut etika yang sesuai dengan ajaran Alkitab yakni memancarkan sifat ilahi di bidang moral kepada sesama manusia. Ketiga, membenahi akan makna hidup dan pelayanan. Sebagaimana kita adalah orang-orang Kristen maka kita harus hidup dan melayani orang lain sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Keempat, kita harus berusaha membina orang Kristen untuk memuliakan Tuhan di bidang- bidang yang berbeda dalam masyarakat luas. Kelima, bagaimana gereja mendorong pelebaran pekabaran Injil di dalam melaksnakan tugas Amanat Agung.

Akhirnya, bagaimana gereja bisa mempunyai orang-orang yang mampu memimpin di dalam masyarakat?

Kecuali gereja bisa memberikan isi pemberitaan dan pengajaran yang dirasakan cukup oleh orang-orang berpotensi maka barulah kita bisa mendapatkan orang-orang yang bermutu bagi Kekristenan. Mereka yang berkualitas ini harus membimbing agar lebih berkembang, potensi mereka perlu digali serta diarahkan dengan benar. Dengan demikian, untuk mengharapkan munculnya pemimpin-pemimpin yang menjadi kunci dalam masyarakat maka seharusnya para pemimpin gereja pada masa kini memiliki hati yang lapang, visi yang jauh, pandangan yang tepat serta cinta kasih yang limpah dan bijaksana. Jikalau tidak, maka Kekristenan akan selalu tertinggal di belakang. Di lain pihak kepemimpinan itu bukanlah sekedar bisa dilatih atau dicetak oleh usaha manusia, melainkan dibangkitkan oleh Tuhan ditambah dengan penggalian dan latihan sehingga segenap potensi dapat diperkembangkan. Juga harus diciptakan kemungkinan praktek di ladang sebagai sarana output dari apa yang sudah ada padanya ditambah dengan ujian yang lama barulah seseorang bisa menjadi pemimpin yang kuat yang hebat!

Sumber:

Sumber diambil dari: Judul Buku : Menuju Tahun 2000; Tantangan Gereja Di Indonesia Judul Artikel : Teologia Reformed dan Revelansinya Bagi Gereja Masa Kini Penulis : - Penerjemah : - Penerbit : Momentum Halaman : 47 - 55

Beda antara Pelagian, Semi-Pelagian, Arminian, Lutheran dan Reformed

Apakah beda antara pandangan Pelagian, Semi-Pelagian, Arminian, Lutheran dan Reformed tentang hubungan antara kehendak manusia dan anugerah keselamatan dari Allah?

Ajaran Pelagian adalah tidak ada yang disebut dengan dosa asal. Semua manusia lahir netral tanpa dosa. Manusia bisa berkehendak bebas memilih baik dan jahat, percaya Tuhan ataupun tidak. Sebagai mahluk yang independent maka Roh Kudus tidak berinteraksi dengan kehendak bebas manusia.

Ajaran Semi-Pelagian adalah manusia lahir dengan dosa asal tetapi dosa itu tidak mencemarkan kehendak bebas manusia. Manusia harus berinisiatif dengan kehendak sendiri untuk percaya Kristus maka Roh Kudus akan membantu manusia. Ingat film Titanic yang aktornya berkata “you jump, I jump”? Ajaran Semi-Pelagian adalah manusia harus berkehendak untuk percaya Kristus dahulu, maka Roh Kudus akan datang menolong.

Ajaran Arminian adalah manusia lahir dengan dosa asal, kehendak bebasnya pun tercemar dosa asal. Manusia tidak akan berkehendak bebas memilih Kristus akibat dari polusi dosa asal itu. Lalu bagaimana manusia bisa percaya Kristus? Allah telah memberikan anugerah kepada semua manusia. Anugerah dari Allah ini menyebabkan kehendak bebas manusia menjadi netral supaya bisa memilih percaya Kristus maupun tidak percaya Kristus. Dalam hal ini supaya selamat maka manusia harus mengaktifkan kehendak bebasnya menerima injil Kristus. Dengan kata lain, keselamatan membutuhkan kerja sama antara anugerah Allah dengan kehendak manusia. Secara statistic mungkin keselamatan itu adalah 50% kontribusi Allah, 50% kontribusi manusia lewat kehendak bebasnya.

Ajaran Lutheran adalah manusia lahir dengan dosa asal, kehendak bebasnya pun tercemar dosa asal. Manusia tidak akan berkehendak bebas memilih Kristus akibat dari polusi dosa asal itu. Lalu bagaimana manusia bisa percaya Kristus? Allah telah memberikan anugerah kepada semua manusia. Lalu apa bedanya antara Arminian dengan Lutheran? Arminian mengajarkan untuk selamat, manusia harus MENGAKTIFKAN KEHENDAK BEBASNYA untuk percaya Kristus. Lutheran mengajarkan manusia tidak bisa mengaktifkan kehendak bebasnya untuk percaya Kristus. Lalu bagaimana manusia bisa selamat? Syaratnya adalah manusia jangan menolak pekerjaan Roh Kudus di dalam dirinya. Asalkan manusia TIDAK MENOLAK anugerah itu dengan kehendak bebasnya maka dia pasti selamat. Secara statistic mungkin keselamatan itu adalah 75-95% kontribusi Allah dan 5-25% kontribusi manusia.

Ajaran Reformed adalah manusia lahir dengan dosa asal, kehendak bebasnya pun tercemar dosa asal. Manusia tidak akan berkehendak bebas memilih Kristus akibat dari polusi dosa asal itu. Manusia sudah mati di dalam dosa. Manusia bukan saja tidak mampu, dia pun tidak mau untuk selamat dengan mempercayai injil Kristus. Lalu bagaimana manusia bisa ada yang selamat? Karena Roh Kudus sudah mengubah spiritualitas diri manusia. Anugerah Roh Kudus sudah menghidupkan kerohanian manusia yang mati itu. Anugerah Roh Kudus ini akan mengubah hati manusia sehingga dia atas kehendak sendiri mau menerima injil Kristus. Secara statistik, keselamatan adalah 100% dari Allah, manusia tidak berkontribusi apa2 (0%).

Lalu manakah yang benar? Saran saya anda membaca Roma 9 secara keseluruhan, maka akan anda bisa tahu sendiri yang mana yang benar. Perhatikan ayat berikut:

9:14

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil!

9:15

Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati."

9:16

Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.

Perhatikan Paulus menyatakan keselamatan manusia adalah tergantung pada kemurahan hati Allah BUKAN PADA KEHENDAK BEBAS manusia (9:16). Lalu apakah Allah tidak adil? Paulus sudah menjawab "Mustahil" titik.

Oleh John Liem

Berikut adalah tanya jawab antara orang reformed dan non-reformed :

1. Kalau keselamatan itu 100% dari Allah,dan manusia tidak berkontribusi apa2!..Maka manusia tidak usah mengurusi masalah keselamatan yg kepunyaan Allah ?!..Lebih baik mengurusi keselamatan untuk DIRI SENDIRI AJA !..aman ?...Untuk apa ngurusi KESELAMATAN ORANG LAIN !?. ...Maka KENALILAH DIRIMU SENDIRI !..DAN KENALI ORANG LAIN !...maka dalam 100 peperangan 100 x BERKEMENANGAN !....( Sun Tzu ).. Dapat mengenal diri sendiri = PENCERAHAN BATHIN!...Mampu mengalahkan diri sendiri = PERKASA !............Hari 2 gini masih BERHALUSINASI & PESIMIS !?....> berthelogia PESIMIS SUDAH BUKAN ZAMANNYA ! Dosa terbesar manusia adalah MENIPU DIRI SENDIRI DAN MENIPU ORANG LAINN ! musuh terbesar manusia adalahDIRI SENDIRI !


Jawab :
Allah menyelamatkan manusia lewat pemberitaan injil yang dilakukan oleh manusia. Manusia diberikan tugas untuk berpartisipasi dalam rencana karya penyelamatan ini. Makanya kita harus mengurusi keselamatan orang lain. Persoalan mau terima atau tidaknya orang itu terhadap tawaran keselamatan akan tergantung pada anugerah Allah.

2. Persoalannya minta respon manusia atas tawaran? tapi masih tergantung...?jadi manusia tidak berkontribusi apa2..maka lebih baik diam aja kan nanti terserah Allah!? > Theologi Pesimis ini sudah harus ditinggalkan !?... Siapa yg nyuruh memberi Anugrah !?...Manusia bukan ROBOT !?...

Jawab :
Siapa bilang teologi calvinist itu teologi pesimis? Justru optimis, sehingga orang yang lahir di keluarga islam, hindu, budha, fanatik bisa menjadi kristen. Jikalau keselamatan ditentukan oleh respoons manusia tanpa anugerah Allah campur tangan maka sangat pesimis orang2 yang lahir dalam situasi demikian (diancxam mati oleh keluarga) bisa menjadi kristen.

3.
Anugrah dulu atau Respon dulu ? tentu Anugrah dulu !...Siapa yg nyuruh memberi Anugrah ?...Sudah dikatakan > Anugrah itu tidak otomatis !..Perlu dikerjakandan MENJADI MILIK KITA !? Orang yg menyangkal usaha manusia disebut IDEALIS !... " MENJADI" yg dinamis lebih penting dari " ADA " yg pesimis !?.....YG REALISTIS AJA !..Jangan menyangkal Realita!.. Manusia tidak hidup di awang 2 !?

Jawab :
Justry anda yang menyangkal realita ayat alkitab. Bisakah anda jelaskan isi Roma 9 dengan paradigma anugrah-respons versi anda? Jawabannya adalah jelas tidak!

4. apakah bila seseorang tidak menyakini reformed ia akan binasa ?

Jawab :
Yang menentukan keselamatan adalah iman pada Kristus. Iman kepada Kristus ya dalam arti iman yang sejati.

5.
iman yg sejati????mksdnya,tlg dijelaskan terperinci

Jawab :
Ada iman yang sejati dan ada iman yang palsu. Iman yang sejati adalah pemberian Allah. Beriman palsu ya maksudnya orang itu tidak tahu kalau imannya itu ternyata palsu. Seseorang bisa saja tersentuh, simpati dan menghayati pengorbanan Kristus, jadi sekedar pengalaman psikologi. Hal ini mirip dengan kategori beriman.


Siapakah Juruselamat Sejati ?

Berbicara tentang Juruselamat tentu saja ada yang perlu diselamatkan, karena kalau tidak ada yang perlu disematkan, maka tidak perlu Juruselamat, sama seperti "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”
Lalu siapakah yang perlu Juruselamat ? yaitu manusia. Diselamatkan dari apa ? diselamatkan dari dosa . sewaktu saya masih, saya mempunyai konsep keselamatan yang berpusat pada diri sendiri, yaitu dengan perbuatan baik yang nantinya ditimbang bersama dengan dosa, nah tinggal berat mana, berat amal masuk surga, berat dosa masuk neraka .. Pikiran saya ini bukan dari buku agama lain, ataupun dari pengaruh logical positivisme justru dari seorang guru sekolah Minggu saya dulu, karenanya pada waktu dulu, saya merasa tidak perlu Juruselamat wong kita sendiri bisa nyelametin diri kita kok ..
Konsep pikiran seperti inilah yang ada di agama non Kristen.
Apakah yang sebenarnya Alkitab katakan tentang ini ?
Roma 3:23 : semua orang telah berdosa & Roma 6:23 : upah dosa adalah maut. Artinya apa ? artinya 1 dosapun sudah cukup untuk antar kamu ke neraka, tak peduli seberapa banyak perbuatan baik yang kamu lakukan, sama seperti pepatah berkata karena Satu titik nila rusak susu sebelanga ... itulah diri kita, kita semua adalah makhluk yang dicipta, terbatas, dan tercemar oleh dosa, sebagai makhluk yang tercemar oleh dosa, kita semua adalah hamba dosa tanpa terkecuali dan kita semua patut dihukum mati di neraka karena pelanggaran-pelanggaran kita.
Dengan dasar itu, maka tidak ada harapan lagi untuk manusia bisa selamat dari penghukuman tersebut,
Roma 2:24 Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain."
Melihat hal tersebut, tentu kita akan memikirkan apakah syarat seorang Juruselamat?
Juruselamat manusia harus memenuhi beberapa syarat dasar :
1. Harus manusia sejati, karena Ia tidak mungkin menebus manusia dengan penggantian kalau Ia sendiri bukan manusia (Flp 2:1-11)
2. Harus Allah sejati, karena jika hanya manusia, Ia tidak mungkin mengalahkan kuasa maut.
3. Ia harus sendirinya tidak berdosa, karena kalau Ia sendiri berdosa, Ia tidak bisa menggantikan dosa orang lain. Dengan demikian seluruh hidup-Nya harus merupakan hidup yang sempurna.
Apakah ada pendiri agama yang bisa memenuhi ke 3 syarat ini ? bukankah semua orang termasuk para pendiri agama hanyalah manusia yang pernah berdosa ?
Harapan satu-satunya muncul dari inisiatif Allah sendiri yang mau menebus umat-Nya dari dosa mereka melalui AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus
Yesus Kristus, adalah Tuhan dari agama Kristen, namun tahukan kalian arti dari nama “Yesus” dan “Kristus” ?
Yesus = Juruselamat , Kristus = Yang Diurapi / Yang Diutus / Yang Terpilih
Yesus Kristus artinya adalah Satu-satunya Juruselamat yang diutus Allah dengan pengurapan khusus.
Seorang pujangga Inggris, namanya C.S. Lewis. Dahulu adalah seorang atheis, menerima evolusi, dan menghina Kekristenan, ia pernah mangatakan Yesus yang dipercaya oleh orang Kristen itu, hanya ada 4 kemungkinan yang bisa menjelaskan siapa :
1. Orang gila 2. Orang sombong yang tak bermoral 3. Seorang penipu 4. Memang adalah Allah yang berinkarnasi.
Namun pada akhirnya ia bertobat dan menjadi Kristen, pernyataannya tersebut dikoreksi satu persatu oleh dia sendiri, sampai akhirnya ia menarik satu kesimpulan, “If Jesus is not God, then who is He ?”
Keunikan Yesus Kristus :
Auguste Comte adalah tokoh besar dari aliran filsafat positivisme logis sekaligus bapa dari sosiologi positivisme logis adalah aliran yang mengajarkan segala sesuatu harus masuk akal, kalau tidak masuk akal maka hal itu hanyalah omong kosong belaka yang tak patut dipercayai.
Ia pada suatu hari datang ke rumah seorang temannya yang bernama Thomas Carlyle yang adalah seorang dengan nama begitu besar, pengarang buku Revolusi Prancis yang membuatnya dalam waktu 26 tahun. Comte mengatakan bahwa dirinya akan mendirikan agama baru yaitu agama humanisme, agama tanpa pendeta, tanpa Alkitab, dan tanpa hal-hal yang bersifat diluar logika.
Thomas menjawab Comte “Selamat! Tetapi kalau kami ingin agama yang kamu dirikan itu sukses, paling sedikit harus ada tiga syarat. Pertama (1), kamu harus mengatakan kalimat-kalimat yang belum pernah dikatakan oleh orang lain , kedua (2), kamu harus melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan orang lain, ketiga (3) kamu harus berani mengatakan kapan kamu mati, dan tiga hari setelah kamu mati, kamu harus bangkit kembali. Kalau ketiga syarat ini kamu penuhi, maka agama yang kamu dirikan itu pasti sukses.
Jawaban Thomas Carlyle adalah ringkasan untuk mengerti siapakah Kristus, mari kita bersama-sama meneliti keunikan-keunikan ini:
1. Mengatakan kalimat-kalimat yang belum pernah dikatakan oleh orang lain :
-Yoh 8:46 Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?
-Yoh 14 :6 "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.*
2. Melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan orang lain :
Ada 3 pekerjaan yang paling besar yaitu : Penciptaan, penebusan, dan pewahyuan kebenaran. Salah satu bukti nyatanya : Yoh 9 menceritakan tentang seorang yang buta sejak lahir, seorang yang tidak pernah mempunyai pengalaman untuk melihat disembuhkan oleh Yesus, hal ini disebut creation ex nihilo (mencipta dari tidak ada menjadi ada) Hal ini bisa karena Kristus adalah kemanusiaan penuh dan keilahian penuh tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa perpecahan,tanpa perpisahan, karakteristik dari setiap natur tetap dipertahankan dan bersama-sama membentuk satu pribadi. yang merupakan pribadi kedua dari Tritunggal . (Dwinatur) hal ini merupakan penyimpulan dari Konsili Khalsedon tahun 451 dan diakui oleh gereja baik Katholik & Protestan yang meliputi Lutheran, Calvinis, Karismatik. Namun hal ini ditolak oleh sekelompok orang yang namanya Arianisme dan Gnostisisme yang mewarisi pikiran dari Neo-Platoisme, yang akhirnya menolak ke-Ilahian Yesus, dan menolak paham Trinitas/Tritunggal, sekarang nama kerennya adalah Saksi Yehova .
3. Berani mengatakan kapan kamu mati, dan tiga hari setelah kamu mati, kamu harus bangkit kembali :
sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." Markus 9:31
Malaikat berkata "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?"(Lukas 24:5)
Sekarang mari kita lihat apa saja yang dikalahkan oleh KEBANGKITAN-NYA :
· 1. Kuasa politik yang tidak beres : Waktu setelah Pilatus memberikan kuasa untuk orang-orang menyalib Yesus, ia cuci tangan, dianggapnya dengan begitu ia bisa mencuci dosa, kebangkitan Yesus telah membuat Pilatus gemetar sekaligus menunjukkan bahwa Pilatus yang tidak benar.
· 2. Kuasa militer tidak dapat menahan dia : Waktu Yesus dikubur, kuburnya dijaga oleh paling sedikit 80 tentara lengkap dengan 1 centurionnya ( 1 centuria ) sewaktu mereka mendengar ada suara dari dalam kubur dan melihat batu penutup kubur yang terguling, mereka gemetaran, senjatanya jatuh, dan lari ketakutan, hal ini membuktikan kuasa militer tidak dapat merintangi kebangkitan Yesus.
· 3. Kuasa kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kuasa agama palsu tidak bisa merintangi Dia. Orang Farisi berusaha memakai uang untuk menyiarkan kabar bohong, tetapi hal itu percuma karena murid-murid Yesus pergi dan mengkabarkan bahwa Kristus telah bangkit, walaupun ancamannya adalah nyawa mereka sendiri, namun mereka tidak gentar karena kalaupun mereka mati, mereka mati untuk kesejatian, hal ini diteruskan sampai saat ini, dimana kitapun bisa mengerti bahwa Kristus memang benar-benar bangkit.
· 4. kebangkitanNya membuktikan bahwa kuasa alam tidak dapat merintangi Dia : Batu itu harus terguling, padahal untuk menggulingkan batu itu diperlukan 5-6 orang yang kuat, baru bisa terbuka. Siapakah yang sanggup menggulingkan dan membuka batu kubur itu ? kalau Yesus hanyalah manusia, pastilah tidak mungkin bisa terguling batu itu. Hal itu haa mungkin terjadi karena kuasa Ilahi.
Setelah kita membahas banyak poin-poin penting tersebut, saya ingin mengajak saudara-saudara untuk merenungkan satu ayat didalam Yoh 3:16 dan kalimat “The Grace of God is free, but not cheap”kalimat ini diucapkan oleh seorang pendeta Jerman yang bernama Dietrich Bonhoeffer, Bonhoeffer, yang dibunuh oleh Hitler beberapa waktu sebelum NAZI kalah perang.
Maukah saudara menghargai anugrah yang gratis tapi tidak murah itu ? Maukah ? engkau bukan menjawab saya, engkau menjawab kepada Tuhan yang hidup ditahtaNya melalui perkataan dan perbuatanmu.
Kiranya firman Tuhan yang adalah kebenaran, terus mengkuduskan setiap orang yang percaya kepadaNya, Kiranya segala kemuliaan dikembalikan kepada Tuhan, Amin
(Michael Zhang)

-Buku Siapakah Kristus ? (Stephen Tong)

Jumat, 02 Desember 2011

Martin Luther's 95 Theses - 95 Dalil Luther

Bantahan Dr. Martin Luther Mengenai Pertobatan dan Surat Pengampunan Dosa

Dengan keinginan dan tujuan untuk menguraikan kebenaran, perdebatan akan diadakan di Wittenberg berdasarkan pernyataan yang disetujui di bawah kepemimpinan Bapa Martin Luther, rahib Ordo St. Agustinus, Master of Arts and of acred Theology, dosen Universitas Wittenberg. Selin itu, ia meminta kepada orang yang tidak bisa hadir dan meakukan diskusi dengan kami secara lisan ten tang topik itu supaya melakukannya melalui surat untuk menggantikan ketidakhadiran mereka. Dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.

1. Tuhan dan Guru kita Yesus Kristus, ketika Ia mengucapkan "Bertobatlah," dan seterusnya, menyatakan bahwa seluruh hidup orang-orang yang percaya harus diwarnai dengan pertobatan.

2. Kata ini tidak boleh dimengerti mengacu kepada hukuman sakramental; maksudnya, berkaitan dengan proses pengakuan dan pelepasan (dosa), yang diberikan oleh imam-imam yang dilakukan di bawah pelayanan imam-imam.

3. Dan, pertobatan tidak hanya mengacu pada penyesalan batiniah; tidak, penyesalan batiniah semacam itu tidak ada artinya, kecuali secara lahiriah menghasilkan pendisiplinan diri terhadap keinginan daging.

4. Jadi, hukuman itu terus berlanjut selama ada kebencian pada diri sendiri - maksudnya, penyesalan batin yang sejati berlanjut: yaitu, sampai kita masuk ke dalam kerajaan surga.

5. Paus tidak memiliki kekuatan maupun kuasa untuk mengampuni kesalahan apa pun, kecuali yang telah ia diberikan dengan otoritasnya sendiri, atau oleh peraturan.

6. Paus tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dosa apa pun, kecuali dengan menyatakan dan menjaminnya te1ah diampuni Allah; atau setidaknya ia dapat memberikan pengampunan pada kasus-kasus yang menjadi tanggung jawabnya, da1am kasus tersebut, jika kuasanya diremehkan, kesalahan akan tetap ada.

7. Allah tidak pernah mengampuni dosa apa pun, tanpa pada saat yang sama Dia menundukkan diri manusia itu, merendahkan diri da1am sega1a sesuatu, kepada otoritas imam, wakilnya.

8. Peraturan pengakuan dosa hanya dikenakan pada orang yang hidup dan tidak seharusnya dikenakan pada orang yang mati; menurut peraturan tersebut.

9. Oleh karena itu Roh Kudus berkarya da1am diri Paus me1akukan hal yang baik bagi kita, sejauh da1am keputusannya, Paus se1a1u membuat perkecualian terhadap aturan ten tang kematian dan nasib seseorang.

10. Imam-imam bertindak salah dan tanpa pengetahuan,jika dalam kasus orang yang sekarat, mengganti hukuman kanonik dengan api penyucian.

11. Benih ilalang tentang mengubah hukuman kanonik menjadi hukuman di api penyucian tampaknya tentu saja telah ditaburkan sementara para uskup tertidur.

12. Pada mulanya, hukuman kanonik dikenakan bukan sesudah, melainkan sebe1um pengampunan, sebagai ujian untuk pertobatan mendalam yang sejati.

13. Orang yang sekarat melunasi semua hukuman dengan kematian, dianggap sudah mati sesuai hukum kanon dan mendapat hak dilepaskan dari hukum kanon.

14. Kebaikan atau kasih yang tidak sempurna dari orang yang sekarat pasti menyebabkan ketakutan yang besar; dan makin sedikit kebaikan atau kasihnya, makin besar ketakutan yang diakibatkannya.

15. Rasa takut dan ngeri tersebut sudah cukup bagi dirinya sendiri, tanpa berbicara hal-hal lain, tanpa ditambah penderitaan di api penyucian karena hal itu sangat de kat dengan kengerian keputusasaan.

16. Neraka, api penyucian, dan surga tampak berbeda seperti halnya keputusasaan, hampir putus asa, dan kedamaian pikiran itu berbeda.

17. Jiwa da1am api penyucian, tampaknya harus seperti ini: saat kengerian menghilang, kasih meningkat.

18. Namun, hal itu tampaknya tidak terbukti dengan penalaran apa pun atau ayat Alkitab mana pun, api penyucian berada di luar kebaikan seseorang atau meningkatnya kasih.

19. Hal itu juga tidak terbukti; bahwa jiwa dalam api penyucian yakin dan mantap dengan berkat mereka sendiri; mereka semua, bahkan jika kita bisa sangat yakin dengan hal tersebut.

20. Oleh karena itu Paus, ketika ia berbicara ten tang pengampunan sepenuhnya dari semua hukuman, itu bukan sekadar bermakna semua dosa, melainkan hanya hukuman yang ia jatuhkan sendiri.

21. Jadi, para pengkhotbah pengampunan dosa, yang berkata bahwa dengan surat pengampunan dosa dari Paus, seseorang dibebaskan dan diselamatkan dari semua hukuman, melakukan kesalahan.

22. Sebab sesungguhnya ia tidak menghapuskan hukuman, yang harus mereka bayar dalam kehidupan sesuai dengan peraturan, bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

23. Jika pengampunan sepenuhnya bagi semua hukuman bisa diberikan kepada seseorang, sudah tentu tidak akan diberikan kepada seorang pun kecuali orang yang paling sempurna - yaitu, kepada sangat sedikit orang.

24. Oleh karena itu sebagian besar orang pasti tertipu dengan janji pembebasan dari hukuman yang bersifat tidak pandang bulu dan sangat manis itu.

25. Kekuasaan seperti itu dimiliki Paus atas api penyucian secara umum, seperti halnya dimiliki setiap uskup di keuskupannya dan setiap imam di jemaatnya sendiri, secara khusus.

26. Paus bertindak dengan benar dengan memberikan pengampunan dosa kepada jiwa-jiwa, bukan dengan kekuasaan kunci-kunci (yang tak ada gunanya dalam hal ini), meLainkan dengan doa syafaat.

27. Orang yang berkata bahwa jiwa seseorang terlepas dari api penyucian segera setelah uang dimasukkan ke dalam peti yang menimbulkan bunyi gemerencing, berkhotbah dengan gila.

28. Sudah tentu, ketika uang yang dimasukkan dalam peti menimbulkan bunyi gemerencing, ketamakan, dan keuntungan mungkin meningkat, tetapi doa syafaat gereja tergantung pada kehendak Allah semata-mata.

29. Siapa tahu apakah semua jiwa di api penyucian ingin dibebaskan darinya atau tidak, sesuai dengan cerita yang dikisahkan tentang Santo Severinus dan Paschal?

30. Tidak ada seorang pun yang yakin tentang realita perasaan berdosanya sendiri, terlebih-lebih pencapaian pengampunan dosa seluruhnya.

31. Seperti halnya petobat sejati itu jarang, demikian juga orang yang sungguh-sungguh membeli surat pengampunan dosa itu jarang - maksudnya, sangat jarang.

32. Orang yang percaya bahwa, melalui surat pengampunan dosa, mereka dijamin mendapatkan keselamatan mereka, akan dihukum secara kekal bersama dengan guru-guru mereka.

33. Kita harus secara khusus berhati-hati terhadap orang yang berkata bahwa surat pengampunan dari Paus ini merupakan karunia Allah yang tak ternilai harganya, yang menyebabkan seseorang diperdamaikan dengan Allah.

34. Sebab kasih karunia yang disalurkan melalui pengampunan ini hanya berkaitan dengan hukuman untuk memenuhi hal-hal yang bersifat sakramen, yang ditentukan oleh manusia.

35. Orang yang mengajar bahwa penyesalan yang mendalam itu tidak diperlukan oleh orang-orang yang membeli jiwa-jiwa keluar dari api penyucian atau membeli lisensi pengakuan, tidak mengkhotbahkan doktrin Kristen.

36. Setiap orang Kristen yang merasakan penyesalan yang sejati akan mendapatkan pengampunan dosa seluruhnya yang sejati dari penderitaan dan rasa bersalah, bahkan meskipun tanpa surat pengampunan dosa.

37. Setiap orang Kristen sejati, entah yang hidup atau yang mati, mendapatkan bagian dalam semua berkat Kristus dan gereja yang diberikan kepadanya oleh Allah meskipun tanpa surat pengampunan dosa.

38. Namun, pengampunan dosa, yang dilakukan oleh Paus, tidak boleh dipandang rendah dengan cara apa pun sebab pengampunan, seperti saya katakan, merupakan pernyataan pengampunan dosa dari Allah.

39. Menekankan dampak pengampunan dosa yang besar dan pada saat yang sama menekankan pentingnya penyesalan yang sejati di mata orang-orang, merupakan hal yang paling sulit, bahkan juga untuk teolog yang paling terpelajar sekalipun.

40. Penyesalan yang sejati mendambakan dan mencintai hukuman, sementara hadiah pengampunan dosa menjadikannya lega dan membuat manusia membencinya, atau paling tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk membencinya.

41. Pengampunan dosa apostolikharus dinyatakan dengan penuh hati-hati,jika tidak, orang-orang secara salah akan menduga hal itu diletakkan pada perbuatan baik kasih lainnya.

42. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa Paus tidak pernah berpikir bahwa pembelian surat pengampunan dosa dalam cara apa pun bisa dibandingkan dengan karya kasih karunia.

43. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa orang yang memberi kepada orang miskin, atau memberi pinjaman kepada orang yang kekurangan, berbuat lebih baik daripada jika ia membeli surat pengampunan dosa.

44. Karena, me1alui kasih, kasih meningkat, dan manusia menjadi lebih baik; sementara melalui surat pengampunan dosa, ia tidak menjadi lebih baik, tetapi hanya lebih bebas dari hukuman.

45. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa orang yang memandang seseorang yang kekurangan dan melewatinya, memberikan uang untuk mendapatkan pengampunan dosa, tidak sedang membeli surat pengampunan dosa dari Paus untuk dirinya sendiri, tetapi murka Allah.

46. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, kecuali mereka memiliki kekayaan yang berlimpah, mereka terikat untuk melakukan hal yang perlu untuk dipakai bagi keperluan rumah tangga mereka sendiri dan dengan cara apa pun tidak boleh menghamburkannya untuk mendapatkan surat pengampunan.

47. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, meskipun mereka bebas untuk membeli surat pengampunan dosa, mereka tidak diwajibkan untuk melakukannya.

48. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa Paus, dalam memberikan pengampunan, memiliki kebutuhan lebih banyak dan keinginan lebih banyak agar doa yang tekun dinaikkan baginya, daripada uang yang sudah siap untuk dibayarkan.

49. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa pengampunan dari Paus itu berguna,jika mereka tidak meletakkan kepercayaan mereka penyucian; tetapi paling berbahaya, jika melaluinya mereka kehilangan rasa takut mereka kepada Allah.

50. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa,jika Paus mengetahui tuntutan para pengkhotbah pengampunan dosa, ia akan lebih menyukai jika Basilika St. Petrus dibakar sampai menjadi abu, daripada dibangun dengan kulit, daging, dan tulang domba-dombanya.

51. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, seperti halnya merupakan kewajiban, demikian juga itu merupakan harapan Paus yang jika perlu menjual Basilika St. Petrus dan memberikan uangnya sendiri kepada banyak orang, yang darinya para pengkhotbah pengampunan dosa menarik uang.

52. Sia-sialah harapan untuk mendapatkan keselamatan melalui surat-surat pengampunan dosa, bahkan sekalipun itu komisaris, tidak, bahkan Paus sendiri - harus menjanjikan jiwanya sendiri bagi mereka.

53. Orang yang, demi memberitakan pengampunan dosa, mengutuk firrnan Allah untuk meredakan ketenangan di gereja lainnya, adalah musuh Kristus dan Paus.

54. Kesalahan dilakukan terhadap firman Allah jika, dalam khotbah yang sama, waktu yang sama atau lebih lama dihabiskan untuk membahas surat pengampunan daripada untuk membahas firman Allah.

55. Menurut pikiran Paus jika surat pengampunan, yang merupakan masalah yang sangat kecil, dirayakan dengan satu bel, satu prosesi, dan satu seremoni; Injil, yang merupakan masalah yang sangat besar, seharusnya diberitakan dengan ratusan bel, ratusan prosesi, dan ratusan seremoni.

56. Kekayaan gereja yang menyebabkan Paus mengeluarkan surat pengampunan dosa, tidak cukup didiskusikan atau dikenal di antara umat Kristus.

57. Tampak jelas bahwa kekayaan tersebut bukanlah kekayaan semen tara; sebab kekayaan tersebut tidak untuk dibagikan secara gratis, tetapi hanya ditimbun oleh banyak pengkhotbah surat pengampunan dosa.

58. Kekayaan itu juga bukan kebaikan Kristus dan para Rasul; sebab tanpa peran Paus, kebaikan selalu menghasilkan kasih karunia kepada manusia rohani; dan salib, kematian, dan neraka bagi manusia lahiriah.

59. St. Lawrence berkata bahwa harta benda gereja adalah orang-orang miskin di gereja, tetapi ia berbicara menurut penggunaan kata itu pada zamannya.

60. Kami tidak tergesa-gesa berbicara jika kami berkata bahwa kunci gereja, yang diserahkan melalui kebaikan Kristus, adalah kekayaan itu.

61. Sangat jelas bahwa kuasa Paus pada hakikatnya sudah memadai untuk mengampuni hukuman dan kasus-kasus yang khusus diberikan padanya.

62. Kekayaan gereja yang sejati adalah Injil Kudus dari kemuliaan dan kasih karunia Allah.

63. Namun, kekayaan itu paling dibenci karena membuat orang yang pertama menjadi yang terkemudian.

64. Sementara kekayaan surat pengampunan dosa paling diterima karena membuat yang terakhir menjadi yang pertama.

65. Oleh karena itu kekayaan Injil adalah jala, yang pada mulanya digunakan untuk menjala orang kaya.

66. Kekayaan surat pengampunan dosa adalah jala yang sekarang digunakan untuk menjala kekayaan orang.

67. Surat pengampunan dosa, yang dipromosikan secara jelas oleh para pengkhotbah sebagai kasih karunia terbesar, dipandang sungguh-sungguh seperti itu sepanjang berkaitan dengan meningkatnya keuntungan.

68. Namun, dalam kenyataan, surat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kasih karunia Allah dan kesalehan karena salib.

69. Uskup dan imam terikat untuk menerima komisaris kepausan yang mengurusi surat pengampunan dengan segala kehormatannya.

70. Namun, mereka masih terikat untuk melihatnya dengan segenap mata mereka dan memerhatikan dengan segenap telinga mereka supaya orang-orang ini tidak mengkhotbahkan keinginan mereka sendiri, namun mengkhotbahkan apa yang diperintahkan oleh Paus.

71. Biarlah orang yang berbicara menentang kebenaran surat pengampunan dosa Paus terkucil dan terkutuk.

72. Namun, pada sisi lain, orang yang mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menentang hawa nafsu dan penye1ewengan kebebasan para pengkhotbah pengampunan, biarlah ia diberkati.

73. Seperti halnya Paus secara adil menghardik orang yang menggunakan berbagai cara untuk merusak perdagangan surat pengampunan.

74. Terlebih-lebih jika ia menghardik orang yang, dengan dalih surat pengampunan, menggunakannya sebagai alasan untuk merusak kasih kudus dan kebenaran.

75. Berpikir bahwa sur at pengampunan Paus memiliki kuasa sedemikian sehingga mereka bisa membebaskan manusia bahkan jika - meskipun itu tidak mungkin - ia telah bersalah kepada Bunda Allah, merupakan kegilaan.

76. Sebaliknya, kami meneguhkan bahwa surat pengampunan Paus tidak bisa menghapuskan dosa paling remeh sekalipun, sepanjang hal itu terkait dengan kesalahannya.

77. Ungkapan yang mengatakan bahwa seandainya St. Petrus menjadi Paus sekarang, ia tidak bisa memberikan kasih karunia yang lebih besar, merupakan penghujatan kepada St. Petrus dan Paus.

78. Kami sebaliknya meneguhkan bahwa Paus saat ini atau Paus lain mana pun memiliki kasih karunia yang lebih besar yang dapat digunakan menurut kehendaknya - yaitu, InjiI, kuasa, karunia kesembuhan, dan sebagaimana tertulis (1 Korintus XII.9.)

79. Mengatakan bahwa salib yang dihiasi panji-panji kepausan merniliki kuasa yang sama dengan salib Kristus, merupakan penghujatan.

80. Uskup, imam, dan teolog yang mengizinkan khotbah semacam itu beredar di antara umat, harus memberikan pertanggung-jawaban.

81. Khotbah mengenai surat pengampunan dosa yang tidak terkontrol ini bukanlah hal yang mudah, bahkan juga bagi orang terpelajar, tidak bisa menyelamatkan Paus dari fitnah, atau, dalam semua peristiwa, pertanyaan kritis kaumawam.

82. Misalnya: "Mengapa Paus tidak mengosongkan api penyucian demi kasih yang paling kudus, dan kebutuhan jiwa yang mendesak - ini menjadi yang paling benar dari semua alasan - jika ia menebus jumlah jiwa yang tidak terbatas demi hal yang paling hina, uang, untuk digunakan membangun Basilika - ini menjadi alasan yang paling sepele?"

83. Sekali lagi: "Mengapa misa penguburan dan misa peringatan hari kematian masih berlanjut, dan mengapa Paus tidak mengembalikan, atau mengizinkan penarikan dana yang diwariskan untuk tujuan ini; karena hal ini merupakan kesalahan untuk berdoa bagi orang-orang yang sudah ditebus?"

84. Sekali lagi: "Apakah karena kesalehan yang baru kepada Allah dan Paus, maksudnya, demi uang, pejabat gereja mengizinkan orang yang tidak beriman dan musuh Allah untuk menebus jiwa-jiwa yang saleh dan mengasihi Allah dari api pencucian, namun tidak menebus jiwa yang saleh dan terkasih itu, berdasarkan kasih yang cuma-cuma, demi kebutuhannya jiwa-jiwa itu sendiri?"

85. Sekali lagi: "Mengapa peraturan tentang penyesalan dosa, yang sudah lama dihapuskan dan mati dalam kenyataannya karena tidak digunakan, sekarang dipatuhi lagi dengan memberikan surat pengampunan dosa, seolah-olah peraturan-peraturan tersebut masih hidup dan berlaku?"

86. Sekali lagi: "Mengapa Paus, yang kekayaannya saat ini jauh lebih banyak daripada orang yang paling kaya di antara orang kaya, tidak membangun Basilika St. Petrus dengan uangnya sendiri, sebaliknya dengan uang dari. orang-orang percaya yang miskin?"

87. Sekali lagi: "Apa yang diampuni at au dianugerahkan Paus kepada orang-orang, yang dengan penyesalan yang dalam dan sempurna, merniliki hak untuk mendapatkan pengampunan dan berkat yang sempurna?

88. Sekali lagi: "Berkat yang lebih besar apakah yang akan diterima gereja jika Paus, tidak satu kali, seperti yang ia lakukan sekarang, memberikan peng¬ampunan dosa dan berkat seratus kali sehari kepada setiap orang yang setia dalam iman?"

89. Oleh karen a keselamatan jiwa, bukannya uang, yang dicari Paus melalui surat pengampunannya, mengapa ia menunda surat-surat dan pengampunan dosa yang diberikan sejak lama karen a keduanya sama-sama manjur?

90. Untuk menindas keberatan dan argumen kaum awam dengan kekuatan semata-mata dan tidak menyelesaikannya dengan memberikan penjelasan, berarti memberi kesempatan kepada gereja dan Paus untuk dicemooh musuh-rnusuh mereka dan membuat orang-orang Kristen tidak senang.

91. jika, kemudian, pengampunan dikhotbahkan sesuai semangat dan pikiran Paus, sernua pertanyaan ini akan diselesaikan dengan mudah - tidak, bahkan tidak akan ada.

92. Jadi, menyingkirlah, semua nabi yang berkata kepada umat Kristus, "Damai, damai," dan tidak ada damai!

93. Diberkatilah semua nabi yang berkata kepada umat Kristus, "Salib, salib," dan tidak ada salib!

94. Orang-orang Kristen harus dinasihati untuk setia mengikuti Kristus Sang Kepala mereka melalui penderitaan, kematian, dan neraka.

95. Dan dengan demikian yakin untuk memasuki surga melalui penganiayaan, bukannya melalui damai sejahtera yang palsu.

PERNYATAAN

Saya, Martin Luther, Doktor, dari Ordo Rahib di Wittenberg, ingin menyatakan di depan umum bahwa dalil tertentu menentang sur at pengampunan dosa Paus, sebagaimana mereka menyebutnya, te1ah saya cetuskan. Meskipun demikian, sampai saat ini, tidak ada aliran kita yang paling terkenal dan termasyhur, ataupun kekuatan sipil dan keimaman telah mengecam saya, tetapi seperti yang saya dengar, ada beberapa orang yang memiliki sikap tidak berpikir panjang dan lancang, yang berani mengatakan bahwa saya bidat, seolah-olah masalah ini sudah diamati dan dipelajari dengan teliti. Namun, menurut saya, seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya, demikian juga sekarang, saya memohon kepada semua orang dengan iman Kristus, agar menunjukkan kepada saya jalan yang lebih baik, jika jalan yang semacam itu sudah dinyatakan Allah kepadanya, atau paling tidak untuk memberikan pendapat mereka ten tang penilaian Allah dan gereja. Sebab saya tidak begitu terburu-buru untuk berharap bahwa pendapat saya semata yang lebih disukai daripada pendapat semua orang lain, atau tidak bodoh sehingga bersedia membiarkan firman Allah dijadikan dongeng yang direkayasa oleh penalaran manusia.

Disalin dari :

John Foxe, Foxe's Book of Martyrs, Kisah Para Martir tahun 35-2001, Andi, 2001, p. 327- 335

Artikel terkait :

KISAH PARA MARTIR, XII. Karya dan Penganiayaan Terhadap Martin Luther (1517-1546), di http://www.sarapanpagi.org/kisah-para-m ... .html#p4520

- MARTIN LUTHER, di http://www.sarapanpagi.org/martin-luther-vt69.html

Sola Fide (hanya iman) Atau Iman & perbuatan ?



Yakobus 2:14-26 Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati

Iman dan Perbuatan, Yakobus 2:14-26

Yakobus 2:14-26 Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati

2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,

2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku."

2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?

2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham disebut: "Sahabat Allah."

2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?

2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

sumber :http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=263

Pertentanganya dengan Sola Fide :

Roma 1:17

*LAI TB, Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

*Manusia dibenarkan karena iman (Roma 3:21-26)

*Roma 3:27

Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! *Efesus 2:8

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,

*Efesus 2:9 yang mengatakan bahwa keselamatan oleh iman "bukan hasil pekerjaanmu : jangan ada orang yang memegahkan diri"sekilas info :

Dalam Luther's German translation (1545), Luther menambahkan kata "allein (alone)" untuk Roma 3:28 ini, yang seharusnya "...is justified by faith... (Pembenaran oleh Iman)" menjadi "...is justified by faith alone... (Pembenaran hanya oleh Iman)"

Dalam naskah Yunani kata 'hanya/ allein (alone)' itu memang tidak ada. Namun, terjemahan itu sesuai dengan maksud ayat ini. Sebab di dalamnya 'iman' dipertentangkan dengan 'perbuatan'. Setiap cara mengupayakan pembenaran di luar iman merupakan 'perbuatan'. Karena itu, kita boleh saja menerjemahkan 'hanya oleh iman'. Karena inipun juga sesuai dengan maksud Rasul Paulus dalam perikop Roma 3:21-4:25, bahwa keselamatan diperoleh dari iman kepada Tuhan Yesus Kristus (saja) tidak perlu embel-embel melaksanakan syriat Taurat.Kotbah :SOLA FIDE

Berikut cuplikan kotbah seorang pdt.yg membahas ttg doktrin ini.

Ayat 14b merupakan kalimat berbahaya.Karena sejak Yesus sampai Paulus,prinsip diselamatkan karena iman sudah dibakukan.Kata Yesus:imanmu menyelamatkan.Kata Paulus:kamu yg tidak bisa menggenapi Taurat lewat kelakuan,dgn beriman pada kristus akan diselamatkan (Roma3).Diselamatkan lewat apa,kelakuan?tidak melainkan lewat iman (efesus2:8).Lalu mengapa Yakobus berkata dapatkah iman menyelamatkan?Apakah dia bertentangan dgn Paulus?Hari ini kita hrs menyelesaikan dua prinsip yg sepertinya berkonflik besar ini:justified by faith atau justified by deed?.Org reformed & protestan menekankan sola fide tapi menurut katolik iman perlu ditambah dgn perbuatan baik.

Perhatikan:Paulus dan Yakobus menggunakan istilah yg sama iman dan kelakuan dgn konotasi yg berbeda.Baruch Spinoza yg hidup 300 thn lampau di Amsterdam mengatakan:all debates started from the same terminology used in different understanding or definition.

1.yg dimaksud Paulus dgn kelakuan tak bisa menyelamatkan adalah:tak seorangpun yg perbuatan baiknya bisa diperhitungkan sbg jasa yg bisa dia tukar dgn keselamatan Yesus Kristus.Karena di hadapan Allah perbuatan baik kita bagaikan pakaian yg compang-camping (yes 64).Org yg kira dirinya sanggup menggenapkan semua tuntutan taurat akhirnya gagal,dia datang dan percaya kpd Yesus karena hanya Dia yg bisa menyelamatkan.Kita diselamatkan oleh iman.Terjemahan indonesia kurang tepat,seharusnya justified through(melalui) faith.Perampok yg disebelah Yesus diselamatkan hanya dgn satu doa:oh Yesus ingatlah aku waktu Kau memperoleh kerajaanMu.Jawab Yesus:Dengan sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu Aku akan bersamamu in paradise even today.

Perhatikan: Iman Paulus dan Yakobus maksudkan itu ternyata berbeda.Iman yg Paulus maksud adalah bersandar pada kristus utk beroleh keselamatan,sementara yg Yakobus maksudkan adalah kepercayaan secara intelek dan lisan saja,iman yg berbentuk confession.

2.Kelakuan yg Paulus maksudkan berbeda dgn yg Yakobus maksudkan.Yg Paulus maksudkan adalah tidak mau menerima Yesus,hanya membangga-banggakan diri,kelakuan seperti itu tak mungkin menyelamatkan.Sementara kelakuan yg Yakobus maksudkan adalah result,fruit of a true faith.Jadi yg Yakobus maksudkan dgn kelakuan adalah buah keselamatan sementara yg Paulus maksudkan dgn kelakuan adalah syarat utk menerima keselamatan.

3.Perlukah kita beriman?perlu,karena iman adalah dasar kita berkelakuan baik.Tapi kelakuan baik tak bisa diperhitungkan sbg jasa dan menukarkannya dgn keselamatan.Bible leaves no room for human merit in obtaining salvation,karena keselamatan diberi berdasarkan sola gratia (only by the grace of God).Jadi iman dan kelakuan adalah satu kesatuan yang tidak boleh di-disintegerasikan,dipisahkan,bahkan hrs dipelihara keseimbangannya,sama seperti kepala tidak bisa hidup tanpa tubuh,tubuh juga tidak dapat dipisahkan dari kepala.Dgn iman kita datang pada Tuhan,kita menerima anugerah,kita diberi hidup baru yg menjadi pangkalan kita membuahkan perbuatan baik.Jadi iman mendahului kelakuan,namun iman dan perbuatan harus sinkron.Kalau seseorang hanya beriman tapi tdk berkelakuan,itu tandanya imannya palsu,mati.Karena iman dan kelakuan harus nyata sbg satu kesaksian yg utuh:di dlm diri kita ada iman,di luar diri kita ada kelakuan.Iman adalah fondasi,kelakuan adalah buah,Waktu sebatang pohon berbuah,menandakan pohon itu masih hidup.Pohon yg hidup adalah pohon yg berbuah sementara pohon yg sdh mati tak bisa berbuah.Buah adalah tanda:hidup.

Paulus menuliskan di surat korintus kita bukan hidup berdasarkan hal yg tampak,melainakan iman yg invisible.Tapi yakobus sengaja mengkonfrontasikan keduanya,imanmu yg tdk kulihat dan kelakuanku yg bisa kau lihat.Apa maksudnya?Allah tahu akan imanmu yg tak dilihat org,tapi manusia tak mungkin melihat imanmu yg tak nampak,maka kita tdk bisa hanya hidup dgn iman,tidak menyatakannya lewat kelakuan.Karena kelakuan yg didasari iman itu hidup adanya,tapi iman yg tidak mebuahkan kelakuan itu mati adanya.

Di bagian ini ,yakobus menyatakan dgn jelas:dia tdk menginginkan iman dan perbuatan berjalan sendiri2,iman perlu disempurnakan lewat perbuatan,karena perbuatan adalah bukti bahwa imannya itu benar.Iman yg sejati pasti terpancar lewat kehidupannya.

Saat kita berbicara ttg iman,seringkali kita berhenti pada pengertian dan pengakuan scr rasio,itu bukan iman..

Apa hubungannya iman dgn kelakuan?Jika kau punya iman yg sejati,tentu kau akan mewujudkannya dlm kelakuanmu.Kapan kita tahu iman seseorang sejati atau tidak?saat dia dituntut utk melakukan apa yg dia imani.Maka kelakuan adalah batu penguji yg paling bisa dipercaya.Didalam hal iman,kaum injili hanya mengenal dua hal:trust,obey-trust pada Allah,obey menyatakan dirinya sungguh-sungguh beriman.Tapi apa cukup hanya trust and obey saja?tidak ,itu sebebnya teologi reformed menekankan:firman.Iman berasal dari mana?firman.Apa yg kita pakai sbg sbg petunjuk kelakuan?firman.Jadi mengerti firman sbg dasar kita beriman dan berkelakuan.Maka bagi saya,iman adalah trust,understand,and obey.Sebagaimana tubuh tanpa jiwa mati adanya,iman tanpa kelakuan juga mati adanya
Penjelasan atas posting berisi cuplikan kotbah dr Pdt.Dr.Stephen Tong.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Philip Melanchton berkata: “‘faith justifies’ and ‘faith does not justify’ are plain contradiction. Whoever can reconcile them, on him I will put my cap, and allow him to call me a fool” (= ‘iman membenarkan’ dan ‘iman tidak membenarkan’ adalah kontradiksi yang nyata. Siapapun dapat memperdamaikan mereka, padanya aku akan memakaikan topi, dan mengijinkannya menyebutku orang tolol).

Ada beberapa hal yang perlu dimengerti untuk bisa memperdamai­kan / mengharmoniskan Paulus dan Yakobus:

1) Adanya perbedaan tujuan.

Paulus menuliskan suratnya untuk orang-orang yang terpengaruh oleh ajaran Yahudi yang menekankan keselamatan karena perbuatan baik.

Bdk. Kis 15:1-2 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu”.

Karena itu Paulus justru mene­kankan habis-habisan bahwa hanya imanlah yang menyebabkan kita diselamatkan (Gal 2:16,21 Ef 2:8-9).

Tetapi Yakobus menulis kepada orang-orang yang sekalipun mengaku sebagai orang kristen, tetapi hidupnya sama sekali tidak mirip hidup kristen. Karena itu ia justru menekankan perbuatan baik.

2) Adanya perbedaan penggunaan istilah.

a) Istilah ‘pekerjaan / perbuatan baik’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini maka ia memaksudkannya sebagai sesuatu yang digunakan untuk menyelamatkan diri kita. Karena itu maka ia berkata bahwa perbuatan baik tidak diperlukan (yang menyebabkan kita selamat hanyalah iman!).

Tetapi kalau Yakobus menggunakan istilah ini, ia memaksud­kannya sebagai akibat / hasil dari keselamatan. Karena itu ia mengatakan bahwa perbuatan baik harus ada dalam diri orang kristen.

b) Istilah ‘iman / percaya’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini, maka ia menunjuk pada iman kepada Yesus Kristus.

Tetapi kalau Yakobus menggunakan istilah ini, maka ia memaksudkan ‘pengakuan percaya dengan mulut’ (bdk. ay 14 - ‘seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman’).

Calvin: it appears from the first words, that he speaks of false profession of faith: for he does not begin thus, ‘If any one has faith;’ but, ‘If any says that he has faith;’ by which he certainly intimates that hypocrites boast of the empty name of faith, which really does not belong to them [= kelihatan dari kata-kata pertama, bahwa ia (Yakobus) berbicara tentang pengakuan iman yang palsu: karena ia tidak memulai demikian, ‘Jika seorang mempunyai iman’; tetapi ‘Jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman’; dengan mana ia pasti mengisyaratkan bahwa orang-orang munafik membanggakan tentang nama / sebutan yang kosong dari iman, yang sesungguhnya bukan milik mereka].

c) Istilah ‘dibenarkan’.

Kalau Paulus menggunakan istilah ini, maka artinya adalah ‘orangnya dibenarkan oleh Allah’.

Tetapi kalau Yakobus memakai istilah ini, maka maksudnya adalah ‘pengakuan orang itu yang dibenarkan’ (artinya: pengakuannya benar / tidak dusta).

Catatan:

1. Kita harus membedakan arti dari istilah-istilah ini, karena kalau tidak, maka kita akan betul-betul mendapatkan kontradiksi yang tidak terhamoniskan antara Yakobus dan Paulus.

2. Kalau saudara mau mengerti Yak 2:14-26 ini dengan benar, maka adalah sesuatu yang mutlak penting bagi saudara untuk mengingat dengan baik cara Yakobus menggunakan istilah-istilah di atas!

Kesimpulan:

Dalam Yak 2:14-26 ini Yakobus punya satu tujuan pengajaran: pengakuan percaya tidak boleh / tidak bisa dipisahkan dari perbuatan baik. Sebaliknya pengakuan percaya harus dibuktikan kebenarannya melalui perbuatan baik.

Mungkin ia menuliskan bagian ini untuk memberi keseimbangan terhadap doktrin salvation by faith (= keselamatan oleh iman) yang diajarkan oleh Paulus.

Iman / pengakuan tanpa perbuatan.

1) Yakobus berkata bahwa ‘iman / pengakuan percaya tanpa perbu­atan’ tidak menyelamatkan (ay 14).

Untuk ini ia memberikan suatu illustrasi dalam ay 15-16: “(15) Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, (16) dan seorang dari antara kamu berkata: ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?”.

Saya berpendapat bahwa dari illustrasi yang digunakan oleh Yakobus ini terlihat bahwa ia tidak bermaksud untuk mengajarkan doktrin sesat ‘salvation by works’ (= keselamatan oleh perbuatan baik), karena illustrasi yang ia berikan intinya adalah ‘kata-kata tanpa tindakan, tidak ada gunanya’. Jadi, dalam realitanya, ‘pengakuan iman (bukan ‘iman itu sendiri’), tanpa tindakan / perbuatan, tidak ada gunanya’.

2) Yakobus juga berkata bahwa iman seperti itu adalah mati / kosong (ay 17,20,26).

Ay 17,20,26: “(17) Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. ... (20) Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? ... (26) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”.

Ini tidak berarti bahwa mula-mula imannya ada / hidup, lalu menjadi mati.

Artinya adalah bahwa pengakuan orang itu adalah pengakuan yang kosong, dan ini jelas menunjukkan bahwa orang itu sebetulnya sama sekali tidak mempunyai iman! Karena itu imannya tidak bisa ditunjukkan. Bdk. ay 18: “Tetapi mungkin ada orang berkata: ‘Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan’, aku akan menjawab dia: ‘Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.’”.

Dalam ay 18 ini Yakobus membandingkan 2 orang:

a) Orang yang pertama (yaitu Yakobus sendiri) mempunyai iman dan perbuatan.

Kata-kata ‘padaku ada perbuatan’ (ay 18a) tidak boleh diartikan seakan-akan ia hanya mempunyai perbuatan tetapi tidak mempunyai iman, karena ini adalah suatu keadaan yang tidak mungkin terjadi, dan juga ini bertentangan dengan ay 18b yang mengatakan ‘aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku’.

Dari kata-kata dalam ay 18b itu juga jelas bahwa orang ini bisa menunjukkan imannya!

b) Orang yang kedua hanya mempunyai iman / pengakuan. Orang ini tidak bisa menunjukkan imannya, karena memang tidak ada!

3) Yakobus menyamakan iman seperti itu dengan ‘imannya setan’ (ay 19)!

Ay 19: “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar”.

Kepercayaan terhadap adanya satu Allah adalah kepercayaan yang benar. Tetapi bagi setan, kepercayaannya akan adanya satu Allah itu sama sekali tidak menghasilkan hidup yang benar! (Catatan: kepercayaan itu hanya menyebabkan ia geme­tar! Ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang benar tentang Allah, kalau tidak disertai dengan penebusan, hanya mengha­silkan rasa takut!).

Jadi jelas bahwa orang yang mengaku beriman, tetapi tidak membuktikan imannya dengan perbuatan baik, tidak berbeda dengan setan!

Kesimpulan dari 3 hal di atas:

Kalau seseorang mengaku percaya, tetapi tidak ada perbuatan baik dalam hidupnya, maka ia sebetulnya bukan orang kristen! Perhatikan cara Yakobus menyebut orang itu! Ia tidak pernah menyebutnya sebagai ‘saudara’, tetapi ia menyebutnya ‘seorang’ (ay 14), atau ‘orang’ (ay 18), atau ‘manusia’ (ay 20).

Penerapan: Apakah ada perubahan hidup ke arah yang positif dalam diri saudara? Apakah saudara berusaha untuk bisa hidup lebih suci? Apakah saudara membenci dosa dan berusaha membuangnya dari hidup saudara?

John Owen: “I do not understand how a man can be a true believer unto whom sin is not the greatest burden, sorrow and trouble” (= Saya tidak mengerti bagaimana seseorang bisa merupakan orang kristen yang sejati, kalau bagi dia dosa bukanlah beban, kesedihan dan kesukaran yang terbesar).

III) Orang yang membuktikan iman dengan perbuatan baik.

1) Abraham (ay 21-24).

Ay 21-24: “(21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (22) Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. (23) Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’ (24) Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”.

a) Ay 21: “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?”.

Ini tidak boleh diartikan seakan-akan Abraham dibenarkan karena perbuatannya yaitu pada waktu ia mempersembahkan Ishak.

Alasannya:

1. Persembahan itu dikatakan merupakan bukti iman Abraham (Ibr 11:17-19).

Ibr 11:17-19 - “(17) Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, (18) walaupun kepadanya telah dikatakan: ‘Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.’ (19) Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali”.

Kata-kata ‘Karena iman’ pada awal Ibr 11:17, oleh KJV/RSV/NIV/NASB diterjemahkan ‘by faith’ (= oleh iman).

Jadi, text ini jelas menunjukkan bahwa imannya ada lebih dulu dan baru setelah itu ia mempersembahkan Ishak.

2. Abraham dibenarkan karena imannya (ay 23 bdk. Kej 15:6) dan ini terjadi lebih kurang 30 tahun sebelum ia mempersembahkan Ishak (Kej 22).

Ay 23: “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’”.

Kej 15:5-6 - “(5) Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: ‘Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.’ Maka firmanNya kepadanya: ‘Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.’ (6) Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Jadi, arti ayat ini adalah: persembahan Abraham itu adalah perbuatan baik yang membuktikan iman Abraham / membenarkan pengakuan Abraham bahwa ia adalah orang beriman.

b) Ay 22: “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna”.

Artinya: iman / pengakuan saja tidaklah cukup. Pengakuan + perbuatan baik barulah sempurna, artinya: ini adalah iman yang sempurna / sungguh-sungguh.

Calvin: It is said to have been perfected by works, not because it received thence its own perfection, but because it was thus proved to be true (= Dikatakan bahwa iman disempurnakan oleh perbuatan-perbuatan, bukan karena iman itu menerima kesempurnaanya sendiri dari sana, tetapi karena dengan demikian iman itu dibuktikan sebagai benar).

c) Ay 23: “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’”.

Perhatikan kata-kata ‘genaplah nas yang mengatakan’. Artinya: dengan adanya persembahan Ishak itu kelihatanlah bahwa Kej 15:6 adalah benar.

d) Ay 24: “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”.

Kata-kata ‘manusia dibenarkan’, artinya adalah: ia dibenarkan pengakuannya, atau tidak dianggap munafik.

2) Rahab (ay 25).

Ay 25: “Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?”.

a) Ay 25 yang berbicara tentang Rahab ini, bukan merupakan contoh keselamatan karena perbuatan baik, tetapi keselamatan karena iman, yang dibuktikan dengan perbuatan baik.

Jamieson, Fausset & Brown: “Rahab’s act was such that it cannot be quoted to prove justification by works as such. She believed assuredly what her other countrymen disbelieved, and this in the face of every improbability that an unwarlike few would conquer well-armed numbers. In this belief she hid the spies at the risk of her life. Hence, Heb 11:31 names this as an example of faith, rather than of obedience” (= Tindakan Rahab adalah sedemikian rupa sehingga itu tidak bisa dikutip untuk membuktikan pembenaran oleh perbuatan baik saja. Ia percaya secara pasti apa yang orang-orang senegaranya yang lain tidak percaya, dan ini di hadapan setiap ketidak-mungkinan bahwa sedikit orang-orang yang tidak suka perang akan mengalahkan sejumlah besar orang-orang yang bersenjata lengkap. Dalam kepercayaan ini ia menyembunyikan mata-mata itu dengan resiko nyawanya. Karena itu, Ibr 11:31 menyebutkan ini sebagai contoh dari iman, dari pada contoh dari perbuatan baik).

Ibr 11:31 - Karena (Oleh) iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik”.

Catatan: Sama seperti dalam kasus Ibr 11:17 di atas, kata-kata ‘karena iman’ pada awal Ibr 11:31, oleh KJV/RSV/NIV/NASB diterjemahkan ‘by faith’ (= oleh iman).

b) Sekarang Yakobus mengambil orang yang sangat kontras dengan Abraham. Kalau Abraham adalah seorang laki-laki, maka Rahab adalah seorang perempuan. Kalau Abraham adalah nenek moyang bangsa Israel, maka Rahab adalah orang kafir. Kalau Abraham adalah orang yang terhormat, maka Rahab adalah seorang pelacur!

Mengapa Yakobus mengambil contoh orang seperti Rahab? Karena kalau contohnya hanya orang seperti Abraham maka mungkin orang akan berkata: ‘Itu kan Abraham, dia orang luar biasa. Saya tidak bisa seperti dia’. Supaya orang tidak bisa berkata seperti ini, Yakobus mengambil contoh Rahab. Rahab adalah orang kafir, dan terlebih lagi dia adalah seorang pelacur! Tetapi setelah bertobat, ia termasuk orang yang membuktikan imannya dengan perbuatan baik (bdk. Yos 2:1-7).

Calvin: It seems strange that he connected together those who were so unlike. ... Why did he prefer a harlot to all others? he designedly put together two persons so different in their character, in order more clearly to shew, that no one, whatever may have been his or her condition, nation, or class in society, has ever been counted righteous without good works. ... Whosoever, then, seeks to be counted righteous, though he may even be among the lowest, must yet shew that he is such by good works (= Kelihatannya aneh bahwa ia menghubungkan mereka yang begitu berbeda. ... Mengapa ia lebih memilih seorang pelacur dari pada semua orang lain? ia dengan terencana menggabungkan dua orang yang begitu berbeda dalam karakter mereka, untuk menunjukkan dengan lebih jelas, bahwa tidak seorangpun, apapun kondisi, bangsa, atau golongannya dalam masyarakat, pernah dianggap benar tanpa perbuatan baik. ... Maka, siapapun berusaha untuk dianggap benar, sekalipun ia ada di antara orang-orang yang paling rendah, tetap harus menunjukkan oleh perbuatan baik bahwa ia adalah orang seperti itu).

c) Memang perbuatan baik Rahab tidak sempurna, karena mengan­dung dusta / dosa. Tetapi harus diingat hal-hal ini:

1. Ia adalah orang kafir, yang sama sekali tidak mempunyai pengertian Firman Tuhan.

2. Ia adalah seorang pelacur.

3. Ia adalah seorang petobat baru, sehingga sukar diharapkan bisa melakukan perbuatan baik yang sempurna.

4. Perbuatan baiknya saat itu, dimana ia menyembunyikan mata-mata Israel terhadap tentara Yerikho, mempunyai resiko tinggi.

Jadi, sekalipun perbuatan baiknya mengandung dusta / dosa, itu tetap dianggap sebagai perbuatan baik yang membuktikan imannya!

Dengan adanya contoh Rahab ini terlihat dengan jelas, bahwa siapapun orang yang beriman itu, kalau ia memang betul-betul beriman, ia pasti melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai buah / bukti imannya.

Penutup.

William Hendriksen: “Good works have never saved anybody. Yet without them no one has a right to claim that he is a Christian” (= Perbuatan baik tidak pernah menyelamatkan siapapun. Tetapi tanpa perbuatan baik tidak seorangpun mempunyai hak untuk mengclaim bahwa ia adalah orang Kristen) - ‘Romans’, hal 114.

Juga ada semacam semboyan yang berbunyi sebagai berikut: “We are justified by faith alone, but not by faith that is alone” [= Kita dibenarkan oleh iman saja, tetapi bukan oleh iman yang sendirian (tanpa perbuatan baik)].

Apakah iman saudara sudah terbukti dengan adanya perbuatan-perbu­atan baik? Kalau sudah, puji Tuhan, saudara adalah orang kristen sejati. Teruslah berusaha untuk menyucikan diri saudara. Kalau belum, sadarilah bahwa saudara sebetulnya bukan orang kristen, dan saudara belum diselamatkan. Karena itu datanglah kepada Kristus dan bertobatlah!

-AMIN-

Bagi sdr yg telah mendapat berkat dari artikel ini..mohon kiranya dapat membantu menyebarkan Pada sdr2 kita yg lain, sehingga semakin banyak sdr kita yg juga bisa membaca artikel ini dan mendapat berkat. Tuhan memberkati sdr. Amin.

http://www.golgothaministry.org/artikel/art_pertentanganyakobuspaulus.htm